Skleroderma ringan merupakan kondisi autoimun kronis yang menyebabkan kulit menjadi keras dan menebal karena produksi kolagen yang berlebihan. Pada kondisi ringan ini, gejalanya hanya terlihat pada kulit dan jarang memengaruhi organ di dalam tubuh.
Gejala khas penyakit ini yaitu kulit yang terasa kaku dan mengencang di area tangan, wajah, hingga kaki. Beberapa orang juga mengalami Fenomena Raynaud yaitu kondisi pada perubahan warna jari saat terkena dingin, kesemutan dan rasa yang tidak nyaman di sendi.
Penyebab pasti terjadinya skleroderma belum sepenuhnya dipahami, namun biasanya penyakit ini dipengaruhi oleh faktor genetik, gangguan sistem kekebalan tubuh hingga paparan zat kimia. Proses autoimun ini juga dapat menyebabkan sel fibroblas menjadi terlalu aktif sehingga menghasilkan kolagen yang lebih dan membuat kulit menjadi kaku dan tebal.
Pengobatan saat ini, termasuk imunosupresan, berfokus pada pengelolaan gejala dan memperlambat perkembangan penyakit, namun belum dapat menyembuhkan akar penyebabnya. Maka dari itu terapi dengan menggunakan stem cell (sel punca) terus dikembangkan dan dinilai menjanjikan dalam memperbaiki jaringan yang rusak.
Baca Artikel Lainnya: Bagaimana Secretome Berperan dalam Imunomodulasi?
Mekanisme Stem Cell dalam Menangani Skleroderma Ringan
Stem cell mesenchymal (MSCs) diduga bekerja dengan cara mengatur sistem kekebalan tubuh dan menghambat proses pengerasan jaringan. MSCs dinilai dapat menekan sel T dan B yang dapat menyerang tubuh pada penyakit autoimun.
MSCs juga berpotensi mengurangi produksi zat peradangan seperti TGF-β yang memicu penebalan kulit. Stem cell (sel punca) dinilai memperbaiki jaringan dengan menghasilkan zat penting yang merangsang regenerasi sel. Bukan hanya itu MSCs berpotensi mendorong pembentukan darah baru yang rusak.
Jenis Stem Cell yang Digunakan dalam Terapi Skleroderma
Jenis stem cell (sel punca) yang sedang diteliti untuk digunakan dalam terapi skleroderma ringan yaitu:
- Mesenchymal stem cells (MSCs): yang dikenal dengan kemampuan dalam mengatur sistem imun dan menghambat pengerasan pada jaringan.
- Adipose derived stem cells (ADSCs): sebagai salah satu jenis MSCs, dinilai memiliki efek anti inflamasi yang kuat.
- Eksosom: yang merupakan salah satu molekul yang dikeluarkan oleh MSCs, dinilai berkemungkinan efektif membantu menghambat proses fibrosis pada kulit. .
Manfaat Terapi Regeneratif pada Pasien Skleroderma Ringan
Terapi stem cell (sel punca) berpotensi memberikan manfaat penting, diantaranya berkemungkinan mengurangi penebalan dan kekakuan kulit dengan cara menghambat aktivitas berlebihan dari fibroblas. Terapi ini juga dinilai membantu menekan respon autoimun dan peradangan yang terjadi di seluruh tubuh, sehingga dapat mencegah penyakit semakin parah.
Potensi manfaat lainnya yaitu meningkatkan elastisitas kulit dan memperbaiki aliran darah. Selain itu, terapi ini diharapkan meningkatkan kualitas hidup pasien dan membantu memperbaiki fungsi gerakan tangan pada pasien yang mengalami kekakuan.
Baca Artikel Lainnya: Secretome dan Sistem Imun: Bagaimana Keduanya Berinteraksi?
Prosedur Terapi Stem Cell untuk Skleroderma Ringan
Prosedur terapi stem cell (sel punca) untuk mengobati skleroderma ringan dilakukan dengan berbagai cara yaitu:
- Stem cell diambil dari sumsum tulang belakang di dalam tubuh.
- Kemudian akan dikultur di laboratorium agar hasilnya optimal.
- Stem cell (sel punca) disuntikkan melalui infus atau langsung ke area kulit yang mengalami pengerasan.
- Kemudian dokter akan melakukan pemantauan untuk menghindari efek samping.
Hasil Klinis dan Studi Pendukung
Beberapa penelitian yang mendukung manfaat terapi stem cell (sel punca) pada skleroderma ringan yang dilakukan oleh Chen memiliki hasil bahwa mesenchymal stem cells (MSCs) dinilai dapat menurunkan produksi CCL2 yaitu zat yang menjadi pemicu peradangan dan membantu memperbaiki pembuluh darah pada manusia.
Penelitian berikutnya yang dilakukan oleh Elessawi memiliki hasil bahwa MSCs menjanjikan dalam menormalkan kadar TGF-β1 dan NO yang penting dalam proses pengerasan kulit.
Penelitian berikutnya yang dilakukan Li memiliki hasil bahwa eksosom dari MSC potensial dalam menghambat fibrosis/ pengerasan pada kulit dan mampu menekan jalur TGF-β/Smad.
Terapi stem cell (sel punca) regeneratif menunjukkan potensi besar dalam mengatasi skleroderma ringan melalui mekanisme imunomodulasi dan antifibrosis. Dengan bukti klinis yang semakin kuat, pendekatan ini bisa menjadi pilihan terapi inovatif yang aman dan efektif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Untuk info lebih lanjut mengenai terapi stem cell regeneratif untuk skleroderma ringan, Anda bisa mendapatkan informasi dan edukasi lengkap bersama Regenic.
Sumber Referensi:
- Chen, L., Huang, R., Huang, C., Nong, G., Mo, Y., Ye, L., Lin, K., & Chen, A. (2025). Cell therapy for scleroderma: progress in mesenchymal stem cells and CAR-T treatment. Frontiers in Medicine.https://doi.org/10.3389/fmed.2024.1530887
- Elessawi, D., Gabr, H., Badawy, M. M. M., & Gheita, T. (2021). Therapeutic potential of mesenchymal stem cells for refractory scleroderma: murine model study. Tissue & Cell, 73, 101671.https://doi.org/10.1016/j.tice.2021.101671
- Li, M., Zhang, H., Wang, X., Chen, Z. G., Lin, X., & Zhu, W. (2021). Mesenchymal stem cell-derived exosomes ameliorate dermal fibrosis in a murine model of bleomycin-induced scleroderma. Stem Cells and Development.https://doi.org/10.1089/scd.2021.0112