Keratoconus adalah gangguan mata yang berkembang secara bertahap, di mana bagian depan mata yang bening dan berbentuk kubah (kornea) menjadi makin tipis dan menonjol seperti kerucut. Hal ini membuat cahaya yang masuk ke mata menjadi tidak terfokus dengan baik, sehingga penglihatan menjadi buram, silau, dan lebih sensitif terhadap cahaya.
Biasanya, gejala mulai muncul saat remaja hingga usia 30-an, seperti penglihatan tidak jelas, silinder (astigmatisme) yang tidak teratur, sering ganti ukuran kacamata atau lensa, hingga melihat bayangan ganda dari satu mata. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa makin parah dan memerlukan transplantasi kornea.
Penyebabnya beragam, mulai dari faktor keturunan, alergi mata, sering menggosok mata, hingga stres oksidatif yang merusak sel utama pada kornea (keratosit). Akibatnya, struktur kolagen di kornea melemah, membuatnya lebih mudah menonjol keluar.
Di sinilah terapi regeneratif dengan stem cell hadir sebagai harapan baru. Bukan untuk mengganti kornea, terapi ini bertujuan memperbaiki jaringan kornea yang rusak dengan bantuan stem cell, sehingga pasien berpotensi terhindar dari operasi besar seperti transplantasi.
Mekanisme Stem Cell pada Pasien Keratoconus
Terapi stem cell menawarkan pendekatan baru untuk membantu mengatasi keratoconus. Sel punca jenis Mesenchymal stem cells (MSCs) memiliki kemampuan untuk berubah menjadi berbagai jenis sel pada mata, seperti sel keratosit, epitel, dan endotel kornea.
Selain menggantikan sel yang rusak atau hilang, MSCs juga melepaskan zat anti-inflamasi dan antioksidan yang membantu meredakan peradangan serta mendorong pembentukan kolagen baru yang merupakan komponen penting dalam menjaga kekuatan kornea.
Di bagian pinggir kornea terdapat limbal stem cells (LSC) yang berperan menjaga lapisan permukaan kornea tetap sehat. Namun pada keratoconus yang sudah lanjut, jumlah LSC yang sehat menjadi sangat terbatas. Karena itu, terapi dengan menambahkan MSCs atau Adipose-Derived stem cells (ADASCs) langsung ke lapisan tengah kornea (stroma) bertujuan untuk:
- Memperbaiki jaringan kornea: dengan menstimulasi produksi kolagen baru di area yang menipis.
- Menekan peradangan: dengan mengurangi enzim yang merusak kolagen dan melawan radikal bebas.
- Regenerasi terarah: dengan membentuk sel keratosit baru yang berfungsi secara normal.
Dengan cara ini, terapi stem cell tidak hanya memperkuat struktur kornea, tetapi juga membantu menghambat perkembangan penyakit tanpa perlu operasi besar seperti transplantasi kornea.
Baca artikel lainnya: Secretome untuk Peremajaan Area Mata: Alternatif Tanpa Operasi
Jenis Stem Cell yang Digunakan
Dalam terapi keratoconus, beberapa jenis stem cell dapat digunakan, masing-masing dengan keunggulan dan tantangannya sendiri:
1. Mesenchymal Stem Cells (MSCs)
Stem cell ini berasal dari sumsum tulang atau jaringan lemak. MSCs dikenal karena sifat antiinflamasinya dan kemampuannya untuk dikultur (dibiakkan) dengan mudah di laboratorium. Namun, tantangannya terletak pada menjaga daya hidup dan fungsi sel dalam jangka panjang setelah ditanamkan ke mata.
2. Limbal Stem Cells (LSC)
LSC diambil dari jaringan limbus di sekitar kornea pasien sendiri. Stem cell ini sangat penting untuk menjaga dan memperbaiki lapisan permukaan kornea (epitel). Tantangannya adalah pada pasien keratoconus lanjut, jaringan limbus yang sehat sering kali sudah sangat terbatas, sehingga sulit diperoleh.
3. Adipose-Derived Stem Cells (ADASCs)
ADASCs berasal dari jaringan lemak di bawah kulit (biasanya melalui prosedur liposuksi ringan). stem cell ini tersedia dalam jumlah melimpah dan pengambilannya cukup mudah. Namun, tantangannya adalah memastikan stem cell ini bisa menyatu dan berfungsi baik dengan jaringan mata pasien.
Setiap jenis stem cell memiliki potensi yang berbeda dalam membantu regenerasi jaringan kornea, dan pemilihannya tergantung pada kondisi pasien serta pendekatan terapi yang digunakan.
Manfaat Terapi Stem Cell pada Pasien Keratoconus
Terapi stem cell menawarkan sejumlah manfaat bagi penderita keratoconus, terutama sebagai alternatif yang lebih ringan dibanding transplantasi kornea. Beberapa manfaat utamanya antara lain:
- Memperkuat struktur kornea, sehingga bisa menunda bahkan menghindari kebutuhan akan transplantasi.
- Memperbaiki ketebalan dan bentuk kornea, yang membantu menurunkan nilai kelengkungan abnormal (keratometri) dan meningkatkan ketajaman penglihatan.
- Mengurangi gejala silau dan rasa nyeri setelah prosedur, terutama jika dikombinasikan dengan bahan regeneratif seperti RGTA (®Cacicol).
- Risiko efek samping yang rendah karena sebagian besar studi menunjukkan tidak ada tanda-tanda keruh pada kornea maupun reaksi penolakan jaringan setelah terapi.
Dengan pendekatan yang lebih alami dan minim invasif, terapi stem cell menjadi harapan baru bagi pasien keratoconus untuk mendapatkan kualitas penglihatan yang lebih baik tanpa operasi besar.
Baca artikel lainnya: Bagaimana Secretome Membantu Mengontrol Kadar Gula
Prosedur Terapi Stem Cell untuk Pasien Keratoconus
Terapi stem cell untuk keratoconus dilakukan melalui beberapa tahapan berikut:
1. Pengambilan Sel
Stem cell dapat diperoleh dari tubuh pasien sendiri. Bisa melalui liposuction ringan di area perut atau paha untuk mendapatkan jaringan lemak (Adipose-Derived stem cells), atau dari aspirasi sumsum tulang jika menggunakan Mesenchymal stem cells.
2. Isolasi dan Perbanyakan Sel
Sel yang diambil akan dibersihkan dan diperbanyak di laboratorium khusus bersertifikat GMP (Good Manufacturing Practice) hingga jumlahnya cukup untuk terapi.
3. Penyuntikan ke Kornea (Implantasi Intrastromal)
Dengan teknologi laser femtosecond, dokter membuat kantong kecil di dalam lapisan tengah kornea (kedalaman 100–120 mikron). Stem cell kemudian disuntikkan ke dalam kantong tersebut, baik sendiri maupun bersama jaringan pendukung dari donor yang sudah dibersihkan dari sel aslinya (decellularized).
4. Pendekatan Inovatif Tambahan
Nanorobot CeSAN-bots: Teknologi ini menggunakan partikel cerium-oxide berukuran atom untuk membantu stem cell lebih mudah menyatu dan bertahan di jaringan kornea, serta melindungi dari stres oksidatif.
Tetes mata RGTA (Cacicol®): Digunakan setelah prosedur untuk membantu pemulihan jaringan dan mengurangi rasa perih.
5. Pemantauan Pasca-Tindakan
Pasien akan menjalani pemeriksaan lanjutan pada hari ke-1, minggu ke-1, bulan ke-1, dan kemudian setiap 3–6 bulan. Pemeriksaan meliputi pengukuran bentuk kornea (topografi) dan ketajaman penglihatan.
Studi Klinis dan Hasil Penelitian
Terapi stem cell untuk keratoconus bukan lagi sekadar harapan, berbagai studi klinis telah dilakukan untuk membuktikan keamanannya dan efektivitasnya dalam memperbaiki penglihatan. Dari penelitian skala kecil hingga tinjauan sistematis, hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan regeneratif ini berpotensi besar membantu pasien menghindari operasi besar seperti transplantasi kornea. Berikut adalah beberapa studi penting yang memberikan gambaran nyata manfaat terapi ini:
1. Injeksi Langsung ADASCs ke Kornea (Ahadi, 2024)
Penelitian oleh Ahadi melibatkan 8 pasien dengan keratoconus sedang hingga berat. Mereka menerima suntikan stem cell yang diambil dari jaringan lemak (ADASCs) langsung ke lapisan tengah kornea (stroma). Hasilnya adalah sebagai berikut:
- Ketajaman penglihatan meningkat rata-rata 1,8 baris pada grafik Snellen.
- Ketebalan kornea bertambah sekitar 6 mikrometer dalam 6 bulan.
- Kelengkungan kornea (keratometri) berkurang sebesar 0,8 dioptri.
- Tidak ditemukan efek samping serius seperti kekeruhan atau reaksi penolakan.
2. Kombinasi Lamina Donor dan ADASCs (El Zarif, 2021)
Penelitian El Zarif (2021) menunjukkan bahwa penanaman jaringan stroma kornea donor baik yang telah dibersihkan dari sel maupun yang diisi kembali dengan stem cell dari lemak pasien sendiri (ADASCs), merupakan metode yang aman dan efektif untuk mengatasi keratoconus lanjut.
Studi ini mencatat peningkatan signifikan pada ketebalan kornea, kejernihan kornea yang tetap terjaga hingga 3 tahun, serta tidak ditemukannya efek samping seperti nyeri, infeksi, atau penolakan jaringan. Temuan ini memperkuat potensi terapi regeneratif sebagai alternatif transplantasi kornea.
3. Protokol Regeneratif Ganda (Alió del Barrio, 2019)
Penelitian oleh Alió del Barrio melibatkan 14 pasien yang dibagi menjadi 3 kelompok: satu kelompok menerima ADASCs, satu lagi menerima lamina stroma donor, dan sisanya mendapatkan kombinasi keduanya.
Hasil menunjukkan bahwa semua kelompok mengalami perbaikan struktur kornea tanpa kehilangan ketajaman penglihatan. Dalam tiga bulan pemantauan, kornea tetap jernih dan bebas dari reaksi imun.
Baca artikel lainnya: Bagaimana Stem Cell Membantu Memudarkan Garis Halus
4. Literature review oleh Ghiasi, 2021
Studi tinjauan oleh Ghiasi (2021) menyoroti potensi Mesenchymal Stem Cells (MSCs) dalam memperbaiki kerusakan kornea, termasuk mempercepat regenerasi lapisan epitel dan meningkatkan kejernihan kornea. Dengan sifat antiinflamasi dan imunomodulatornya, MSCs dinilai menjanjikan untuk terapi regeneratif mata. Meski hasil awal cukup menggembirakan, studi ini juga menekankan perlunya pemantauan jangka panjang terkait keamanan, terutama terhadap risiko proliferasi sel yang tidak terkendali.
5. Literature review oleh Wang, 2023
Tinjauan oleh Wang (2023) membahas berbagai strategi regenerasi kornea, mulai dari terapi stem cell seperti ADASCs hingga scaffold berbasis kolagen dan transplantasi donor. Secara umum, terapi ini menunjukkan perbaikan struktur dan fungsi kornea, termasuk peningkatan ketajaman penglihatan serta penyembuhan luka kornea.
MSCs, khususnya ADMSCs dan UC-MSCs, disebut memiliki imunogenisitas rendah dan sifat antiinflamasi yang menjanjikan, sedangkan scaffold yang telah didecellularisasi dirancang untuk menghindari reaksi imun. Meskipun tidak semua pendekatan bebas efek samping, terapi regeneratif secara keseluruhan dinilai prospektif, terutama dalam mengatasi keterbatasan terapi kornea konvensional seperti kelangkaan donor dan kebutuhan imunosupresi.
6. Terapi Kombinasi MSC dan Nanorobot CeSAN-Bots untuk Regenerasi Kornea (Ju, 2025)
Penelitian oleh Ju (2025) mengevaluasi kombinasi terapi stem cell mesenkimal (MSC) dengan nanorobot CeSAN-bots berbasis atom tunggal cerium–emas (CeNPs/Au-CeNPs) untuk perbaikan cedera kornea. Hasil in vivo pada model tikus menunjukkan bahwa kombinasi ini mampu meningkatkan ketebalan epitel dan stroma kornea, mempertahankan morfologi epitel yang menyerupai kornea sehat, serta meningkatkan regenerasi epitel yang ditandai dengan ekspresi penanda K12+.
Mekanisme sinergis antara MSC dan nanorobot dipercaya bekerja melalui pengurangan stres oksidatif dan modulasi respons imun. Meski hasilnya menjanjikan, studi ini menekankan perlunya penelitian lebih lanjut dalam skala besar dan jangka panjang untuk mengkonfirmasi efektivitas dan keamanan pendekatan ini secara menyeluruh.
Terapi stem cell untuk keratoconus kini bukan lagi sekadar wacana ilmiah di laboratorium, tetapi sudah berkembang menjadi salah satu opsi klinis yang nyata dan menjanjikan. Sejumlah studi menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak hanya mampu menebalkan lapisan kornea (stroma) dan memperhalus permukaan mata, tetapi juga membantu meningkatkan ketajaman penglihatan secara signifikan.
Dari sisi keamanan, terapi ini termasuk minim komplikasi dan bisa dikombinasikan dengan prosedur lain seperti corneal cross-linking. Lebih dari itu, inovasi terus berkembang, mulai dari penggunaan nanoteknologi, biomaterial scaffold, hingga tetes mata regeneratif yang semakin memperkuat terapi regeneratif di bidang kesehatan mata.
Meskipun masih dibutuhkan penelitian jangka panjang dan penyempurnaan protokol, hasil saat ini sudah memberikan harapan besar. Terapi stem cell bisa menjadi salah satu solusi yang efektif dan lebih dari sekadar pemakaian lensa kontak, namun belum sampai ke tahap transplantasi sehingga membantu pasien keratoconus mendapatkan kembali kualitas penglihatan dan hidup yang lebih baik.
Bagi Anda yang mengalami keratoconus, terapistem cell bisa menjadi harapan baru untuk menjaga dan memulihkan penglihatan. Dengan cara kerja yang alami dan regeneratif, terapi ini membantu memperkuat struktur kornea dari dalam. Temukan kemungkinan terapinya bersama tim Regenic.
Referensi:
- Ahadi, M., Ramin, S., Abbasi, A., Tahmouri, H., & Hosseini, S. B. (2024). Mini review: human clinical studies of stem cell therapy in keratoconus. BMC Ophthalmology, 24(1). https://doi.org/10.1186/s12886-024-03297-w
- Alió del Barrio, J. L., El Zarif, M., Azaar, A., Makdissy, N., Khalil, C., Harb, W., El Achkar, I., Jawad, Z. A., de Miguel, M. P., & Alió, J. L. (2018). Corneal Stroma Enhancement With Decellularized Stromal Laminas With or Without stem cell Recellularization for Advanced Keratoconus. American Journal of Ophthalmology, 186, 47–58. https://doi.org/10.1016/j.ajo.2017.10.026
- Alió, J. L., Alió Del Barrio, J. L., El Zarif, M., Azaar, A., Makdissy, N., Khalil, C., Harb, W., El Achkar, I., Jawad, Z. A., & De Miguel, M. P. (2019). Regenerative Surgery of the Corneal Stroma for Advanced Keratoconus: 1-Year Outcomes. American Journal of Ophthalmology, 203, 53–68. https://doi.org/10.1016/j.ajo.2019.02.009
- El Zarif, M., Alió, J. L., Alió del Barrio, J. L., De Miguel, M. P., Abdul Jawad, K., & Makdissy, N. (2021). Corneal Stromal Regeneration: A Review of Human Clinical Studies in Keratoconus Treatment. Frontiers in Medicine, 8. https://doi.org/10.3389/fmed.2021.650724
- Ghiasi, M., Jadidi, K., Hashemi, M., Zare, H., Salimi, A., & Aghamollaei, H. (2021). Application of mesenchymal stem cells in corneal regeneration. Tissue and Cell, 73. https://doi.org/10.1016/j.tice.2021.101600
- Gumus, K., Guerra, M. G., De Melo Marques, S. H., Karaküçük, S., & Barritault, D. (2017). A new matrix therapy agent for faster corneal healing and less ocular discomfort following epi-off accelerated corneal crosslinking in progressive keratoconus. Journal of Refractive Surgery, 33(3), 163–170. https://doi.org/10.3928/1081597X-20161206-07
- Ju, X., Javorková, E., Michalička, J., & Pumera, M. (2025). Single-Atom Colloidal Nanorobotics Enhanced stem cell Therapy for Corneal Injury Repair. ACS Nano, 19(20), 19095–19115. https://doi.org/10.1021/acsnano.4c18874
- Ramin, S., Abbasi, A., Ahadi, M., Rad, L. M., & Kobarfad, F. (2023). Assessment of the effects of intrastromal injection of adipose-derived stem cells in keratoconus patients. International Journal of Ophthalmology, 16(6), 863–870. https://doi.org/10.18240/ijo.2023.06.05
- Venugopal, B., Madathil, B. K., & Anil Kumar, P. R. (2019). stem cell-based therapeutic approaches toward corneal regeneration. In Biointegration of Medical Implant Materials. https://doi.org/10.1016/B978-0-08-102680-9.00011-1
- Wang, M., Li, Y., Wang, H., Li, M., Wang, X., Liu, R., Zhang, D., & Xu, W. (2023). Corneal regeneration strategies: From stem cell therapy to tissue engineered stem cell scaffolds. Biomedicine and Pharmacotherapy, 165. https://doi.org/10.1016/j.biopha.2023.115206