Stem Cell sebagai Alternatif Terapi pada Hipertensi Resisten

Hipertensi resisten adalah kondisi serius di mana tekanan darah tetap tinggi meskipun pasien sudah menggunakan tiga jenis obat antihipertensi atau lebih, termasuk diuretik, dalam dosis optimal dan dengan kepatuhan yang baik. Hipertensi resistensi terkadang tidak bisa dikendalikan dan tidak merespon terapi standar, dibandingkan dengan hipertensi biasa. Hal ini menjadi perhatian yang serius untuk para pasien, karena dapat meningkatkan komplikasi kardiovaskular, seperti stroke, serangan jantung, hingga penyakit ginjal kronis.

Hipertensi resisten disebabkan oleh beberapa faktor hormonal, misalnya hiperaldosteronisme, gangguan fungsional ginjal, disfungsi endotel, serta aktivasi sistem saraf simpatis yang berperan penting. Faktor lainnya, seperti kelebihan berat badan, resisten insulin, gangguan tidur, mengkonsumsi obat tertentu (steroid atau obat anti-inflamasi non-steroid), dan gaya hidup yang berantakan yang dapat memicu atau perburuk penyakit ini. 

Gejala umum yang dimiliki sama dengan hipertensi biasa, seperti nyeri pada kepala, pusing, kelelahan, sesak nafas, penglihatan buram dan kabur, hingga sakit dada. Karena tidak memiliki gejala khusus, hal ini membuat pasien terlambat menyadari bahwa memiliki tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, sehingga terlambat untuk diagnosis. Rutin dalam melakukan pemeriksaan darah dan evaluasi pengobatan menjadi langkah penting untuk efektivitas terapi dan pencegahan komplikasi.

Hipertensi resisten perlu dilakukan tindakan yang kompleks dan inovatif untuk mengatasinya karena pengobatan farmakologis sering kali kurang efektif dan memerlukan pendekatan yang berpotensi dalam mengobati hipertensi resisten. Misalnya pengobatan intervensi non-farmakologis yang menjadi alternatif, seperti stem cell, yang berpotensi untuk perbaiki kerusakan pembuluh darah dan jaringan pada tubuh yang memiliki kaitan dengan tekanan darah. 

Mekanisme Stem Cell dalam Menurunkan Tekanan Darah pada Hipertensi Resisten

Stem cell bekerja melalui dua mekanisme utama, yaitu memperbaiki kerusakan pada pembuluh darah dan menstabilkan fungsi endotel vaskular. Hipertensi resisten sering kali disebabkan oleh disfungsi endotel dan peningkatan stres oksidatif. Stem cell dapat membantu memperbaiki kerusakan ini dengan melepaskan faktor pertumbuhan dan zat antiinflamasi.

Terapi stem cell juga dapat menurunkan resistensi vaskular sistemik dan meningkatkan elastisitas pembuluh darah, dua komponen penting dalam regulasi tekanan darah.

Selain itu, stem cell juga dapat memodulasi sistem saraf otonom, yang turut berperan dalam pengaturan tekanan darah. Kombinasi efek ini membuat stem cell menarik sebagai terapi adjuvan untuk pasien yang tidak merespons terapi obat.

Baca artikel lainnya: Terapi Stem Cell untuk Penyakit Addison (Kelenjar Adrenal)

Jenis Stem Cell yang Digunakan dalam Terapi Hipertensi

Jenis stem cell yang paling banyak diteliti untuk terapi hipertensi adalah:

  1. Mesenchymal Stem Cells (MSC): memiliki kemampuan imunomodulasi dan regenerasi vaskular.
  2. Endothelial Progenitor Cells (EPC): membantu memperbaiki endotel dan membentuk pembuluh darah baru.
  3. Induced Pluripotent Stem Cells (iPSC): menawarkan potensi regeneratif tinggi meskipun masih terbatas pada studi eksperimental.

Manfaat Terapi Stem Cell pada Pasien Hipertensi Resisten

Beberapa manfaat terapi stem cell untuk hipertensi resisten meliputi:

  1. Pemulihan struktur pembuluh darah yang mengalami kerusakan jangka panjang.
  2. Penurunan tekanan darah melalui efek vasodilatasi dan antiinflamasi.
  3. Meningkatkan efektivitas terapi farmakologis.
  4. Mengurangi komplikasi jantung dan ginjal melalui perbaikan sistemik.

Baca artikel lainnya: Terapi Stem Cell untuk Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

Prosedur Terapi Stem Cell untuk Hipertensi Resisten

Prosedur terapi stem cell untuk hipertensi resisten biasanya melibatkan beberapa langkah. Pertama, stem cell diambil dari sumber yang sesuai, seperti lemak tubuh, sumsum tulang, atau darah tali pusat. 

Selanjutnya, stem cell diisolasi dan dikultur di laboratorium untuk meningkatkan jumlahnya. Setelah itu, stem cell diberikan kepada pasien melalui infus intravena. Prosedur ini biasanya dilakukan di rumah sakit dan membutuhkan pemantauan medis yang ketat untuk memastikan keamanan dan efektivitas. 

Studi dan Bukti Klinis

Penelitian yang berjudul “Human iPSC-derived mesenchymal stem cells relieve high blood pressure in spontaneously hypertensive rats via splenic nerve activated choline acetyltransferase-positive cells” menunjukkan bahwa terapi dengan hiPSC-MSCs (sel punca mesenkimal turunan sel punca pluripoten) dapat menurunkan tekanan darah pada tikus hipertensi melalui mekanisme aktivasi saraf limpa. 

Sel ini melepaskan glutamat, yang menstimulasi saraf simpatis limpa, memicu pelepasan norepinefrin (NE) dan peningkatan sel ChAT⁺, yang menghasilkan asetilkolin (ACh) sebagai vasodilator. Jalur ini membantu menurunkan tekanan darah dan peradangan organ. Studi ini membuka potensi baru terapi hipertensi berbasis stem cell.

Namun, studi lanjutan dan uji klinis skala besar masih diperlukan sebelum terapi ini bisa direkomendasikan secara luas. Terapi stem cell menjanjikan sebagai alternatif baru dalam pengobatan hipertensi resisten, terutama dengan kemampuannya memperbaiki fungsi vaskular, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan efektivitas pengobatan konvensional. 

Meskipun masih dalam tahap awal, pendekatan ini membuka peluang besar dalam pengelolaan hipertensi yang sulit dikendalikan. Regenic hadir untuk Anda, memberikan informasi mengenai stem cell dan secretome.

Sumber Referensi

  1. Martinez, A. et al. (2023). Autologous Mesenchymal Stem Cell Infusion in Patients With Renovascular Disease: A Phase I Clinical Trial. *Stem Cells Translational Medicine, 12*(4). https://doi.org/10.1093/stcltm/szad034
  2. Van der Laarse, A., Cobbaert, C., & Umar, S. (2015). Stem and Progenitor Cell Therapy for Pulmonary Arterial Hypertension. *Pulmonary Circulation, 5*(1), 73–80. https://doi.org/10.1086/679701
  3. Gaine, S., & Gomberg-Maitland, M. (2007). New Targets for Pulmonary Hypertension: Gene and Stem Cell Therapy. *International Journal of Clinical Practice, 61*(s157), 27–31. https://doi.org/10.1111/j.1742-1241.2007.01647.x
  4. Zhang, Z., Huang, W., Zhang, X., Wang, Z., Xie, M., Xie, B., Wang, Y., Chen, X., Xiang, A. P., & Xiang, Q. (2025). Human iPSC-derived mesenchymal stem cells relieve high blood pressure in spontaneously hypertensive rats via splenic nerve activated choline acetyltransferase-positive cells. Science China. Life sciences, 68(2), 502–514. https://doi.org/10.1007/s11427-023-2675-2
  5. Oliveira-Sales, E. B., Maquigussa, E., Semedo, P., Pereira, L. G., Ferreira, V. M., Câmara, N. O., Bergamaschi, C. T., Campos, R. R., & Boim, M. A. (2013). Mesenchymal stem cells (MSC) prevented the progression of renovascular hypertension, improved renal function and architecture. PloS one, 8(11), e78464.https://doi.org/10.1371/journal.pone.0078464

Recommendation For You

article

Pendekatan Regeneratif Stem Cell dalam Penanganan Miom Uterus

Umum08 Dec 2025

Miom uterus, atau dikenal juga sebagai leiomyoma atau fibroid, adalah tumor jinak yang tumbuh di jaringan otot rahim (miometrium). Meski tidak bersifat kanker, miom dapat menyebabkan berbagai gangguan, seperti perdarahan menstruasi yang berlebihan, nyeri panggul, sering buang air kecil, hingga gangguan kesuburan.

article

Terapi Stem Cell untuk Mengurangi Kemerahan pada Kulit Rosacea

Kulit08 Dec 2025

Rosacea merupakan kondisi kulit inflamasi kronis yang umumnya menyerang area wajah dan ditandai dengan tanda kemerahan, flushing, papula, pustula, bahkan telangiektasia.

article

Mengurangi Bopeng Bekas Jerawat dengan Kombinasi Stem Cell dan Secretome

Kulit08 Dec 2025

Bopeng atau scar atrofik merupakan komplikasi jangka panjang dari jerawat yang merusak penampilan dan dapat berdampak pada kepercayaan diri. Bopeng terjadi karena gangguan proses penyembuhan luka pada kulit yang kehilangan kolagen akhirnya menyebabkan cekungan permanen.