Stem Cell Induksi Pluripoten dan Penyembuhan Neuralgia Postherpetik

Neuralgia postherpetik, atau yang biasa dikenal dengan PHN, merupakan rasa nyeri kronis yang dapat muncul setelah seseorang sembuh dari infeksi herpes zoster. Meskipun ruam sudah hilang, namun sebagian orang mengalami rasa nyeri yang hebat di area yang terinfeksi. Hal ini terjadi karena kerusakan pada saraf akibat infeksi virus varicella zoster. Saat virus aktif kembali di dalam tubuh, ia dapat menyebabkan peradangan dan gangguan fungsi pada serabut saraf, yang memicu sinyal nyeri terus-menerus, meski infeksi sudah tidak ada.

Nyeri yang dirasakan seperti luka bakar, tertusuk hingga seperti tersengat listrik. Beberapa orang yang mengalami allodynia, yaitu rasa nyeri yang ada di kulit ketika bersentuhan ringan, dan hiperalgesia, yaitu kepekaan secara berlebihan terhadap rasa sakit. Rasa nyeri yang dialami bisa terjadi selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sehingga hal ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Penyebab terjadinya PHN adalah peradangan dan kerusakan pada serabut saraf karena adanya reaktivasi virus varicella-zoster. Meskipun infeksinya telah sembuh, sistem saraf dapat terganggu sehingga membuat sinyal nyeri tetap aktif. Perubahan ini terjadi baik di saraf tepi maupun saraf pusat. 

Pengobatan PHN sangat kompleks, mulai dari minum obat-obatan, antidepresan, antikejang, atau pereda nyeri. Namun, tidak semua pasien mendapatkan perbaikan yang signifikan. Maka dari itu terapi dengan penggunaan stem cell, khususnya Induced Pluripotent Stem Cells (iPSC), mulai dikembangkan sebagai salah satu alternatif penyembuhan.

Baca Artikel Lainnya: Apa Itu Skin Barrier dan Bagaimana Secretome Membantunya?

Stem Cell Induksi Pluripoten (iPSC)

Induced Pluripotent Stem Cells (iPSC) adalah sel tubuh yang berasal dari sel kulit atau darah, yang diubah menjadi stem cell. Proses ini dilakukan dengan cara memasukan gen tertentu agar sel kembali dalam kondisi awal, sehingga sel dapat berubah menjadi berbagai jenis sel yang lain, termasuk sel saraf. 

Keunggulan utama iPSC adalah sifatnya yang pluripoten (bisa berkembang menjadi berbagai jenis sel), dan bersumber dari tubuh pasien sendiri, sehingga risiko penolakan sangat rendah saat digunakan untuk terapi.

Manfaat Terapi Stem Cell iPSC pada Neuralgia Postherpetik

Manfaat iPSC atau PHN memiliki manfaat penting diantaranya: 

  • Mengganti sel saraf yang rusak. iPSC bisa berubah menjadi neuron dan sel pendukung saraf yang diperlukan untuk memperbaiki jalur saraf yang rusak akibat infeksi. 
  • Menekan inflamasi kronis. Sel saraf yang dihasilkan dari iPSC dapat membantu mengurangi reaksi peradangan, yang menjadi penyebab utama PHN. 
  • Efek regeneratif dan perlindungan saraf. Dengan transplantasi iPSC, sel saraf dapat mengalami regenerasi sehingga meningkatkan kemampuan saraf untuk beradaptasi dan mengurangi kerusakan pada saraf. 

Baca Artikel Lainnya: Peran Stem Cell dalam Menjaga Hidrasi Kulit

Prosedur Terapi Stem Cell iPSC untuk Neuralgia Postherpetik

Meskipun masih dalam tahap penelitian, prosedur terapi iPSC umumnya melalui berbagai tahap. Diawali dengan pengambilan sel dari urin atau darah pasien, kemudian diubah menjadi iPSC tanpa virus untuk keamanan pasien. Selanjutnya iPSC diarahkan untuk menjadi sel pendahulu saraf atau NPCs yang dapat berkembang menjadi neuron atau sel pendukung saraf lainnya menggunakan teknik khusus. 

Setelah selesai diproses, sel mulai dilakukan proses transplantasi dengan metode penyuntikan ke area sekitar saraf yang mengalami nyeri, dengan panduan teknologi pencitraan medis. Langkah terakhir yaitu proses pemantauan pasca terapi. Hasil terapi dipantau dengan MRI dan tes sensorik untuk memeriksa efek samping yang terjadi. 

Studi dan Bukti Klinis

Penelitian yang dilakukan oleh Wu menunjukkan bahwa iPSC yang diambil dari urin manusia berhasil diubah menjadi sel saraf pendahulu (NPC) dan menunjukkan perbaikan fungsi saraf setelah cedera pada tikus yang mengalami stroke. 

Hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Oh, menunjukkan bahwa terapi iPSC-NPC pada hewan memperlihatkan adanya pemulihan perilaku dan pembentukan koneksi saraf (sinaps), yang penting untuk pemulihan saraf. 

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Kaiser, dalam model stroke pada babi, kombinasi terapi iPSC dengan menggunakan obat antiinflamasi dapat membantu memperbaiki area otak yang rusak dan memperpanjang kelangsungan hidup sel saraf. Walau penelitian ini belum khusus dilakukan pada PHN, mekanisme kerja iPSC sangat relevan untuk kasus kerusakan saraf akibat infeksi seperti pada PHN.

Terapi stem cell berbasis iPSC menghadirkan harapan baru untuk pasien PHN, dengan pendekatan regeneratif, yaitu dengan dengan potensi memperbaiki jaringan saraf yang rusak dan mengurangi nyeri kronis. Meskipun bukti klinis masih berkembang, hasil dari studi preklinis sangat mendukung eksplorasi lebih lanjut di ranah terapi nyeri neuropatik.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai stem cell induksi pluripoten dan penyembuhan neuralgia postherpetik, Anda bisa mendapatkannya secara lengkap bersama Regenic. 

Sumber referensi: 

  1. Cherkashova, E. A., Leonov, G. E., Namestnikova, D. D., Solov'eva, A. A., Gubskii, I. L., Bukharova, T. B., Gubskii, L. V., Goldstein, D. V., & Yarygin, K. N. (2020). Methods of generation of induced pluripotent stem cells and their application for the therapy of central nervous system diseases. Neuroscience and Behavioral Physiology, 50(10), 1227–1238.https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32157511/
  2. Vidman, S., Ma, Y. H. E., Fullenkamp, N., & Plant, G. W. (2025). Human induced pluripotent stem cell–derived therapies for regeneration after central nervous system injury. Neural Regeneration Research, 20(11), 2195–2201.https://journals.lww.com/nrronline/fulltext/2025/11000/human_induced_pluripotent_stem_cell_derived.2.aspx
  3. Wu, R., Luo, S., Yang, H., Hu, X., Lin, A., Pan, G., Zhong, X., & Li, Z. (2020). Transplantation of neural progenitor cells generated from human urine epithelial cell-derived induced pluripotent stem cells improves neurological functions in rats with stroke. Stem Cell Research & Therapy, 11, 244.https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32598863/
  4. Oh, S. H., Jeong, Y. W., Choi, W., Noh, J. E., Lee, S., Kim, H. S., & Song, J. (2020). Multimodal therapeutic effects of neural precursor cells derived from human-induced pluripotent stem cells through episomal plasmid-based reprogramming in a rodent model of ischemic stroke. Cells, 9(4), 888.https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32269595/
  5. Kaiser, E. E., Waters, E. S., Yang, X., Fagan, M. M., Scheulin, K. M., Sneed, S. E., Cheek, S. R., Jeon, J. H., Shin, S. K., Kinder, H. A., Kumar, A., Platt, S. R., Duberstein, K. J., Park, H. J., Xie, J., & West, F. D. (2022). Tanshinone IIA-loaded nanoparticle and neural stem cell therapy enhances recovery in a pig ischemic stroke model. Biomaterials, 286, 121575.https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36124817/

Recommendation For You

article

Clinical Pain Improvement Despite Persistent Recurrent Inflammatory Effusion Following MSC and Secretome Therapy in Knee Osteoarthritis

INSPIRE18 Sep 2026

Osteoartritis (OA) genu merupakan penyebab utama nyeri dan disabilitas pada populasi lanjut usia.

article

Stem Cell Therapy Promotes Recovery of Motor Aphasia and Motor Weakness in Subacute Stroke: A Case Report

INSPIRE18 Sep 2026

A 47-year-old male presented 39 days post-stroke with motor aphasia and right hemiparesis. Imaging showed infarction and DSA revealed left M2 MCA branch occlusion with atherosclerosis.

article

Perbaikan Signifikan Kontrol Glikemik Pasien DMT2 melalui Adjuvan Secretome: Pendekatan Baru Terapi Regeneratif

INSPIRE18 Sep 2026

Laporan kasus ini mengevaluasi secretome sebagai terapi adjuvan pada wanita 56 tahun dengan DMT2 sulit terkontrol (HbA1c 12,4%) dan komorbiditas inflamasi.