Tinnitus merupakan kondisi seseorang mendengar bunyi seperti dengung, dering, atau siulan, namun tidak ada sumber suara dari luar yang nyata. Suara ini biasanya muncul sesekali atau secara terus-menerus. Walaupun tidak menimbulkan bahaya, namun keadaan ini cukup mengganggu dan menyebabkan kesulitan tidur dan konsentrasi.
Penyebab tinnitus sangat beragam, mulai dari sering terpapar suara keras, cedera kepala, infeksi telinga, gangguan metabolisme, hingga masalah pada saraf. Tinnitus kronis terjadi karena adanya gangguan pada saraf pendengaran atau proses adaptasi otak yang tidak berjalan optimal.
Hingga kini, belum ada pengobatan yang efektif untuk mengobati tinnitus. Terapi yang biasanya dilakukan yaitu terapi suara, obat-obatan, dan terapi kognitif perilaku. Karena keterbatasan pengobatan tersebut, peneliti mulai mengeksplorasi terapi regeneratif, seperti penggunaan secretome, yang dinilai memiliki potensi sebagai salah satu alternatif penanganan tinitus di masa depan.
Baca Artikel Lainnya: Penggunaan Stem Cell untuk Menunda Operasi Sendi Lutut
Mekanisme Terapi Secretome dalam Tinnitus
Secretome adalah kumpulan zat aktif yang dilepaskan oleh Mesenchymal Stem Cell (MSC). Zat ini meliputi yang terdapat didalamnya yaitu faktor pertumbuhan, sitokin, dan eksosom, yang mampu mengurangi peradangan, memperbaiki jaringan saraf, dan merangsang pertumbuhan sel.
Dalam konteks tinnitus, beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa secretome berpotensi membantu menenangkan aktivitas saraf yang abnormal di otak, yang diyakini menjadi penyebab suara berdengung secara terus menerus. Selain itu, beberapa komponen di dalam secretome juga diduga dapat memperbaiki aliran darah di telinga dalam dan mendukung pemuluhan kerusakan halus di struktur pendengaran.
Manfaat Terapi Secretome untuk Gejala Tinnitus
Beberapa manfaat potensial terapi secretome untuk tinnitus yaitu dapat menyeimbangkan aktivitas saraf, karena secretome berperan memulihkan aktivitas saraf yang terganggu, yang sering ditemukan pada penderita tinnitus kronis. Secretome berpotensi mengurangi peradangan dan melindungi jaringan saraf dengan efek antiinflamasi dan antioksidannya yang mampu melindungi saraf dari kerusakan lebih lanjut. Selain itu, sel ini juga mendukung perbaikan telinga bagian dalam karena kandungan yang ada di secretome dapat membantu memperbaiki kerusakan kecil yang terjadi di telinga bagian dalam yang menyebabkan tinnitus.
Baca Artikel Lainnya: Secretome vs PRP, Mana yang Lebih Ampuh untuk Kecantikan?
Prosedur Terapi Secretome untuk Tinnitus
Terapi secretome untuk tinnitus masih dalam tahap penelitian, namun beberapa metode yang sudah diuji meliputi:
- Suntikan di tengah telinga, bertujuan agar zat bekerja lebih cepat pada area yang terganggu.
- Suntikan dari pembuluh darah atau hidung, hal ini dilakukan agar secretome dapat menjangkau otak dan sistem saraf pusat lebih mudah.
- Kombinasi dengan terapi lain, seperti dengan terapi suara untuk hasil yang lebih maksimal.
Sebelum melakukan terapi ini, pasien biasanya perlu menjalani pemeriksaan terlebih dahulu melalui tes pendengaran dan MRI fungsional. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memahami pola tinnitus yang dialami dan menilai aktivitas otak yang berkaitan dengan gejala tersebut.
Studi dan Bukti Klinis Terkini
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Wu menunjukkan bahwa respons terapi suara berbeda pada setiap pasien. Hal ini dipengaruhi oleh struktur otak dan ekspresi gen. Temuan ini menunjukan betapa pentingnya terapi yang menyesuaikan aktivitas otak seperti secretome.
Penelitian berikutnya yang dilakukan Wei memiliki hasil bahwa terapi suara dapat memicu perubahan struktur otak pada penderita tinnitus. Hal ini memberikan harapan bahwa secretome dapat mempercepat perubahan positif.
Penelitian terakhir yang dilakukan oleh Schlee yaitu dengan melalui proyek yang bernama UNITI dikembangkan dengan melakukan pendekatan terapi tinnitus yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Pendekatan ini sejalan dengan potensi penggunaan secretome sebagai bagian dari terapi kombinasi yang terarah.
Secara keseluruhan terapi secretome menunjukkan potensi besar sebagai terapi regeneratif untuk mengurangi gejala tinnitus melalui mekanisme antiinflamasi, neuroprotektif, dan modulasi neuroplastisitas. Meskipun hasil-hasil awal terlihat menjanjikan, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya dalam jangka panjang.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai terapi stem cell dan potensi terapi secretome dalam penanganan tinnitu, Anda bisa mendapatkan edukasi lengkap bersama layanan kesehatan mitra Regenic.
Sumber referensi:
- Usmonov, S., & Usmonov, E. (2025). Tinnitus: Clinical, pathological and treatment aspects. Frontline Medical Sciences and Pharmaceutical Journal.https://doi.org/10.37547/medical-fmspj-05-01-04
- Wu, N., Xu, M., Liu, C., et al. (2024). Treatment outcomes in tinnitus patients are associated with brain functional network. Neuroscience, 553, 89–97.https://doi.org/10.1016/j.neuroscience.2024.07.008
- Wei, X., Lv, H., Chen, Q., et al. (2021). Cortical thickness alterations in patients with tinnitus before and after sound therapy. Frontiers in Neuroscience, 15.https://doi.org/10.3389/fnins.2021.633364
- Schlee, W., Schoisswohl, S., Staudinger, S., et al. (2021). Towards a unification of treatments and interventions for tinnitus patients. Progress in Brain Research, 260, 441–451.https://doi.org/10.1016/bs.pbr.2020.12.005