Terapi Lidah Terbakar dengan Pendekatan Regeneratif

Pernahkah Anda merasakan sensasi panas, perih, atau terbakar di lidah tanpa sebab yang jelas? Bisa jadi Anda mengalami kondisi yang disebut Burning Mouth Syndrome atau sindrom mulut terbakar (BMS). Ini adalah kondisi kronis yang menyebabkan rasa terbakar di mulut, terutama di lidah, tanpa adanya luka atau kelainan fisik yang terlihat.

Gejala BMS dapat berupa rasa panas seperti terbakar, kesemutan, atau mati rasa di area lidah, langit-langit mulut, bibir, bahkan tenggorokan. Penderitanya juga kerap mengeluhkan mulut kering, gangguan pengecapan (rasa logam atau pahit), dan sensitivitas terhadap makanan tertentu.

Penyebabnya belum sepenuhnya dipahami, namun faktor yang sering terlibat antara lain gangguan saraf, perubahan hormonal (terutama pada wanita menopause), stres, serta kekurangan vitamin atau zat gizi tertentu. Karena gejalanya bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun, kondisi ini bisa sangat mengganggu kualitas hidup seseorang.

Pengobatan BMS tergolong menantang karena bersifat idiopatik (tidak diketahui pasti penyebabnya). Namun, kemajuan teknologi medis saat ini mulai membuka harapan baru melalui pendekatan regeneratif, seperti terapi laser, suplemen neuroprotektif, dan bahkan dengan stemcell (sel punca).

Artikel Lainnya: Apa Itu Skin Barrier dan Bagaimana Secretome Membantunya?

Mekanisme Terapi Stem Cell untuk Lidah Terbakar

Terapi stemcell bekerja dengan cara memperbaiki jaringan yang rusak dan menenangkan saraf yang terlalu sensitif, yang menjadi penyebab utama rasa terbakar pada lidah. Dalam kasus BMS, banyak peneliti menduga bahwa penyebab utama adalah gangguan pada saraf atau peradangan mikro di jaringan lidah.

Stemcell, khususnya jenis Mesenchymal Stem Cells (MSCs), memiliki kemampuan untuk:

  • Melepaskan molekul penyembuh seperti faktor pertumbuhan dan antiinflamasi yang membantu memperbaiki jaringan yang iritasi.
  • Merangsang pertumbuhan saraf baru dan memperbaiki fungsi saraf yang rusak.
  • Mengurangi respons peradangan, sehingga mengurangi rasa nyeri, panas, dan terbakar yang dirasakan penderita.
  • Meningkatkan sirkulasi darah mikro, yang penting untuk suplai nutrisi dan oksigen ke jaringan lidah yang terganggu.

Karena stem cell mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan jaringan yang rusak, terapi ini disebut bersifat inteligent repair atau perbaikan cerdas. Meskipun masih dalam tahap awal penelitian, mekanisme ini menunjukkan potensi besar untuk mengatasi gejala BMS dari akar permasalahannya, bukan sekadar menutupi nyeri seperti pada obat-obatan biasa.

Manfaat Terapi Regeneratif pada Lidah Terbakar

Pendekatan terapi regeneratif telah menunjukkan manfaat nyata dalam membantu penyembuhan gejala Burning Mouth Syndrome (BMS). Terapi ini bekerja dengan cara merangsang perbaikan jaringan, mengurangi peradangan, dan memodulasi aktivitas saraf yang berkontribusi pada rasa nyeri dan terbakar di lidah.

Beberapa manfaat utama terapi regeneratif pada BMS meliputi:

  1. Mengurangi rasa nyeri dan terbakar secara signifikan: Studi menunjukkan bahwa Photobiomodulation atau terapi cahaya non-invasif yang menggunakan laser intensitas rendah atau cahaya LED untuk merangsang proses biologis di dalam sel tubuh, terutama dalam hal penyembuhan jaringan, pengurangan peradangan, dan pengurangan nyeri. mampu menurunkan intensitas nyeri pada penderita BMS setelah beberapa kali sesi terapi. Ini membantu pasien menjalani aktivitas harian dengan lebih nyaman.
  2. Meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan: Pasien yang menjalani terapi ini mengalami peningkatan dalam aspek-aspek seperti tidur, aktivitas harian, dan kesehatan mental.
  3. Mengurangi ketergantungan pada obat-obatan: Setelah menjalani terapi laser regeneratif, sebagian besar pasien dalam studi melaporkan penurunan atau penghentian konsumsi obat nyeri dan antidepresan.
  4. Memperbaiki sirkulasi mikro di jaringan lidah: Terapi ini juga terbukti memperbaiki struktur dan fungsi pembuluh darah kecil (kapiler) di area yang terdampak, yang berperan dalam penyembuhan jangka panjang.

Prosedur Terapi Regeneratif untuk Lidah Terbakar

Terapi regeneratif untuk kondisi Burning Mouth Syndrome (BMS) umumnya dilakukan dengan teknik Low-Level Laser Therapy (LLLT) atau photobiomodulation. Ini adalah prosedur non-invasif yang bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri dan merangsang penyembuhan jaringan saraf di area lidah dan rongga mulut.

Langkah-langkah prosedur umumnya meliputi:

  1. Konsultasi dan Diagnosa Awal
    Dokter akan memeriksa gejala, lokasi nyeri (biasanya lidah atau langit-langit mulut), dan memastikan bahwa pasien memang mengalami BMS.
  2. Pembersihan Area Mulut
    Sebelum terapi dimulai, area lidah atau mukosa yang akan diterapi dibersihkan untuk mencegah iritasi tambahan.
  3. Penyinaran dengan Laser Intensitas Rendah
    Alat laser diarahkan langsung ke area yang terasa terbakar, seperti lidah atau bibir, dengan cara berikut:
    • Panjang gelombang: 658–808 nm
    • Durasi: 1–3 menit per titik
    • Frekuensi: 2–3 kali seminggu
    • Total sesi: 6–12 sesi, tergantung respon pasien

  4. Tanpa Rasa Sakit dan Efek Samping
    Terapi ini tidak menimbulkan panas, nyeri, atau luka. Sebagian besar pasien merasa nyaman selama prosedur dan dapat langsung kembali beraktivitas.
  5. Evaluasi BerkalaSetelah beberapa sesi, dokter akan memantau respons pasien, baik dari segi pengurangan rasa terbakar maupun peningkatan kenyamanan saat makan atau berbicara.

Studi dan Bukti Klinis Pendukung

Penelitian dengan judul “Long-Term Benefits of Photobiomodulation Therapy on Health-Related Quality of Life in Burning Mouth Syndrome Patients” yang diteliti oleh João Mendes de Abreu dan timnya pada tahun 2024, menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam penggunaan terapi laser (photobiomodulation) untuk pasien Burning Mouth Syndrome (BMS).

Dalam studi ini, pasien menerima terapi laser sebanyak satu kali setiap dua minggu selama 12 bulan. Hasilnya menunjukkan perbaikan signifikan dalam empat aspek utama kualitas hidup, yaitu mengurangi nyeri, meningkatkan aktivitas harian, memperbaiki kondisi emosional, dan menurunkan ketergantungan pada obat-obatan. Sebanyak 13 dari 15 pasien bahkan berhasil mengurangi atau menghentikan konsumsi obat mereka setelah menjalani terapi ini.

Studi ini membuktikan bahwa terapi photobiomodulation bukan hanya aman, tetapi juga efektif dalam jangka panjang sebagai pendekatan non-invasif untuk mengurangi gejala BMS dan meningkatkan kesejahteraan pasien.

Meskipun terapi stemcell belum secara langsung digunakan untuk BMS, mekanisme kerjanya yang mampu memperbaiki jaringan saraf dan mengurangi peradangan menjadikannya sebagai salah satu pendekatan potensial di masa depan.

Dengan semakin berkembangnya teknologi terapi regeneratif, penderita lidah terbakar kini memiliki harapan baru untuk mendapatkan perawatan yang tidak hanya meredakan gejala, tetapi juga memperbaiki penyebabnya secara menyeluruh dan alami. Cari tahu informasi tambahan untuk edukasi mengenai terapi stem Cell dan secretome di website Regenic.

Sumber Referensi:

  1. Nosratzehi, T. (2021). Burning mouth syndrome: a review of therapeutic approach. Journal of Complementary and Integrative Medicine, 19, 83 - 90. https://doi.org/10.1515/jcim-2021-0434
  2. Gorzkowska, A., Hüpsch-Marzec, H., & Cieślik, P. (2023). Management of burning mouth syndrome. Aktualności Neurologiczne. https://doi.org/10.15557/an.2023.0006
  3. Corte-Real, A., Almiro, P., Nunes, T., Figueiredo, J., & De Abreu, J. (2024). Long-Term Benefits of Photobiomodulation Therapy on Health-Related Quality of Life in Burning Mouth Syndrome Patients: A Prospective Study. Journal of Clinical Medicine, 13. https://doi.org/10.3390/jcm13144272
  4. F. Forouzanfar et al. "Stem cell therapy combined with luteolin alleviates experimental neuropathy." Metabolic Brain Disease, 38 (2023): 1895 - 1903. https://doi.org/10.1007/s11011-023-01206-6
  5. Xin Zeng et al. "Mesenchymal Stem Cell Therapy for Oral Inflammatory Diseases: Research Progress and Future Perspectives.." Current stem cell research & therapy (2020). https://doi.org/10.2174/1574888X15666200726224132
  6. Forouzanfar, F., Hajinejad, M., Nemati, S., Negah, S., & Roudbary, S. (2023). Stem cell therapy combined with luteolin alleviates experimental neuropathy. Metabolic Brain Disease, 38, 1895 - 1903. https://doi.org/10.1007/s11011-023-01206-6

Rekomendasi untuk kamu

article

Pendekatan Regeneratif Stem Cell dalam Penanganan Miom Uterus

Umum08 Dec 2025

Miom uterus, atau dikenal juga sebagai leiomyoma atau fibroid, adalah tumor jinak yang tumbuh di jaringan otot rahim (miometrium). Meski tidak bersifat kanker, miom dapat menyebabkan berbagai gangguan, seperti perdarahan menstruasi yang berlebihan, nyeri panggul, sering buang air kecil, hingga gangguan kesuburan.

article

Terapi Stem Cell untuk Mengurangi Kemerahan pada Kulit Rosacea

Kulit08 Dec 2025

Rosacea merupakan kondisi kulit inflamasi kronis yang umumnya menyerang area wajah dan ditandai dengan tanda kemerahan, flushing, papula, pustula, bahkan telangiektasia.

article

Mengurangi Bopeng Bekas Jerawat dengan Kombinasi Stem Cell dan Secretome

Kulit08 Dec 2025

Bopeng atau scar atrofik merupakan komplikasi jangka panjang dari jerawat yang merusak penampilan dan dapat berdampak pada kepercayaan diri. Bopeng terjadi karena gangguan proses penyembuhan luka pada kulit yang kehilangan kolagen akhirnya menyebabkan cekungan permanen.