Terapi Stem Cell untuk Diabetes Melitus Tipe 2, Harapan Baru atau Hanya Mitos?

Diabetes mellitus tipe dua (DMT2) adalah gangguan sistem metabolisme yang ditandai dengan peningkatan kadar gula di dalam darah dikarenakan ada resistensi insulin atau kelainan fungsi produksi pankreas. DMT2 saat ini menjadi salah satu penyakit tidak menular yang pengidapnya terus bertambah seiring dengan gaya hidup modern dan pola makan serta peningkatan obesitas.

Sebagai contoh pada tahun 2022 The Lancet Diabetes and Endocrinology mencantumkan informasi yang mengklaim sekitar 90% lebih dari seluruh penyakit diabetes memiliki jenis yang sama yakni diabetes tipe 2, angka ini juga diyakini terus meningkat dengan pesat terutama pada negara yang sedang berkembang.

Gejala DMT2 yang paling umum ialah poliuria (sering kencing), polidipsia (mudah haus), polifagia (mudah lapar) . Sebagian pasien juga menemukan adanya perubahan berat badan yang turun secara drastis tanpa alasan yang jelas. Pengembangan dari American Diabetes Association dari jurnal Diabetes Care tahun 2021, fakta mencengangkan lebih dari 30% dari populasi partisipan DMT2 merasakan komplikasi dengan penyakit ginjal, gangguan penglihatan, atau neuropati.

Berbagai faktor genetik dan lingkungan berperan dalam perkembangan diabetes tipe 2. Riwayat keluarga dengan diabetes dapat meningkatkan risiko mengidap kondisi tersebut. Selain itu, gaya hidup yang tidak aktif dan obesitas abdominal adalah faktor penyebab lain yang kuat. Studi oleh New England Journal of Medicine (NEJM) menemukan bahwa individu dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas 30, memiliki risiko lebih dari 10 kali lipat untuk mengembangkan Diabetes Tipe 2 dibandingkan dengan mereka yang memiliki IMT normal.

Baca Artikel Lainnya: Bagaimana Stem Cell Membantu Mengatasi Penyakit Degeneratif?

Selain itu, usia, etnisitas, dan sindrom metabolik juga terbukti berperan dalam memperburuk penyakit ini. Peningkatan risiko diabetes terbesar terjadi setelah usia 45 tahun. Asia, Hispanik, dan Afrika Amerika cenderung menderita resistensi insulin pada berat badan yang lebih rendah daripada yang dianggap obesitas.

Studi lain, seperti yang dilakukan oleh yang diterbitkan dalam Nature Reviews Disease Primers, juga telah menyoroti dampak peradangan kronis tingkat rendah dan disfungsi mitokondria sebagai faktor internal yang memperburuk gangguan metabolik pada pasien yang menderita diabetes tipe 2.

Terapi Stem Cell untuk Diabetes Melitus Tipe 2

Dalam beberapa dekade terakhir, terapi stem cell muncul sebagai pendekatan potensial untuk mengatasi akar masalah Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2), yaitu kontrol glukosa darah yang tidak stabil dan kerusakan sel beta pankreas penghasil insulin. Pendekatan ini bertujuan memulihkan fungsi metabolisme tubuh dengan cara meregenerasi sel beta pankreas yang rusak atau menggantinya dengan sel baru, sehingga produksi insulin diharapkan dapat kembali normal.

Jenis Stem Cell yang digunakan untuk Diabetes Melitus Tipe 2

Jenis stem cell yang paling sering diteliti dalam kaitannya dengan DMT2 adalah stem cell mesenkimal (MSCs) dan stem cell pluripoten terinduksi (iPSCs). MSCs dapat ditemukan di sumsum tulang, jaringan lemak, dan tali pusat, dan dikenal karena sifat imunomodulatornya serta potensinya untuk memperbaiki jaringan. Di sisi lain, iPSCs adalah sel somatik yang telah diprogram ulang menjadi keadaan pluripoten dan berpotensi berdiferensiasi menjadi sel beta pankreas (Pagliuca et al. 2014).

Prosedur Stem Cell untuk Diabetes Melitus Tipe 2

Terapi biasanya dilakukan melalui injeksi MSC atau iPSC baik secara intravena atau langsung ke pankreas, tergantung pada jenis studi dan protokol klinis. Sebelum pemberian sel, dibudidayakan in vitro di bawah pengawasan ketat di laboratorium.

Baca Artikel Lainnya: Mengenal Stem Cell: Solusi Modern untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit

Studi Klinis dan Temuan Terbaru

Laporan dari studi klinis awal menunjukkan hasil yang menjanjikan. Selama uji klinis fase I/II, Bhansali et al. (2021) menunjukkan bahwa pasien DMT2 yang mendapat infus MSC mengalami peningkatan sensitivitas insulin dan penurunan kadar HbA1c dalam periode enam bulan.

Ditemukan pula sejumlah isu besar lainnya antara lain; risiko imunologis, pengendalian diferensiasi sel, dan isu keamanan dalam jangka panjang. Untuk saat ini, terapi medis kulit untuk DMT2 masih dalam tahap diajukan dan belum diterima sebagai standar pengobatan klinis.

Dengan menarget langsung akar penyebab DMT2 (seperti disfungsi sel beta pankreas dan resistensi insulin), alih-alih sekadar mengelola gejala, terapi sel punca (stem cell) untuk DMT2 menawarkan potensi revolusioner.

Hasil penelitian awal pada model hewan dan uji in vitro menunjukkan hasil yang menjanjikan, namun uji klinis fase lanjut berskala besar pada manusia masih diperlukan untuk memvalidasi keamanan dan efikasi terapi ini. Dengan dukungan riset tahap lanjut yang ketat di bawah kerangka regulasi yang jelas, terapi stem cell berpotensi menjadi landasan terapi untuk diabetes tipe 2 di masa depan.

Jika Anda ingin memahami lebih dalam apakah terapi ini cocok untuk kondisi Anda, konsultasikan langsung dengan tenaga medis profesional. Untuk informasi lebih lanjut, mengenai Terapi Stem Cell untuk Diabetes Melitus Tipe 2 dapat mengunjungi layanan kesehatan untuk berkonsultasi terkait perkembangan terapi stem cell di Regenic.


Sumber Referensi:

  • American Diabetes Association. (2021). Classification and diagnosis of diabetes: Standards of medical care in diabetes. Diabetes Care, 44(Supplement_1), S15–S33. https://doi.org/10.2337/dc21-S002
  • Hu, J., Zhang, L., Wang, N., Ding, R., & Li, Z. (2021). Mesenchymal stem cells for the treatment of type 2 diabetes: A meta-analysis of randomized controlled trials. Stem Cell Research & Therapy, 12(1), 1–11. https://doi.org/10.1186/s13287-021-02295-9
  • Millman, J. R., Xie, C., Van Dervort, A., Gürtler, M., Pagliuca, F. W., & Melton, D. A. (2016). Generation of stem cell-derived β-cells from patients with type 1 diabetes. Nature Communications, 7, 11463. https://doi.org/10.1038/ncomms11463
  • Pagliuca, F. W., Millman, J. R., Gürtler, M., Segel, M., Van Dervort, A., Ryu, J. H., Melton, D. A. (2014). Generation of functional human pancreatic β cells in vitro. Cell, 159(2), 428–439. https://doi.org/10.1016/j.cell.2014.09.040
  • Rezania, A., Bruin, J. E., Arora, P., Rubin, A., Batushansky, I., Asadi, A., ... & Kieffer, T. J. (2014). Reversal of diabetes with insulin-producing cells derived in vitro from human pluripotent stem cells. Nature Biotechnology, 32(11), 1121–1133. https://doi.org/10.1038/nbt.3033 ​

Rekomendasi untuk kamu

article

Stem Cell Therapy Promotes Recovery of Motor Aphasia and Motor Weakness in Subacute Stroke: A Case Report

INSPIRE18 Sep 2026

A 47-year-old male presented 39 days post-stroke with motor aphasia and right hemiparesis. Imaging showed infarction and DSA revealed left M2 MCA branch occlusion with atherosclerosis.

article

Perbaikan Signifikan Kontrol Glikemik Pasien DMT2 melalui Adjuvan Secretome: Pendekatan Baru Terapi Regeneratif

INSPIRE18 Sep 2026

Laporan kasus ini mengevaluasi secretome sebagai terapi adjuvan pada wanita 56 tahun dengan DMT2 sulit terkontrol (HbA1c 12,4%) dan komorbiditas inflamasi.