Terapi Stem Cell untuk Multiple Sclerosis, Sejauh Mana Keberhasilannya?

Multiple Sclerosis (MS) adalah penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat, termasuk fungsi otak, mata, dan sumsum tulang belakang, yang menyebabkan peradangan, kerusakan pada lapisan pelindung saraf (demielinasi), dan penurunan fungsi sel-sel saraf (degradasi neuron).

Penyebab pasti Multiple Sclerosis belum diketahui secara pasti, tetapi faktor genetik dan lingkungan diduga menjadi salah satu pemicunya. Multiple Sclerosis dapat menyerang siapa saja, namun penyakit ini sering ditemukan pada wanita usia 20 hingga 30 dibandingkan pria, dengan perbandingan 3 banding 1.

Terdapat beberapa gejala yang dialami oleh penderitanya, seperti mengalami kesemutan hingga mati rasa, kelemahan otot, gangguan penglihatan, neuritis optik yang ditandai dengan nyeri dan kehilangan penglihatan pada satu mata, hingga perubahan emosional seperti depresi dan kecemasan.

Hingga saat ini, belum ditemukan pengobatan yang dapat menyembuhkan secara total. Pengobatan penyakit autoimun MS hanya bertujuan untuk meredakan gejala dan memperlambat kemajuan penyakit.

Beberapa pengobatan yang dilakukan meliputi penggunaan obat-obatan, terapi rehabilitasi, dan konseling untuk mendukung kualitas hidup pasien. Dalam beberapa tahun terakhir, terapi Stem Cell untuk Multiple Sclerosis mulai dikenal sebagai pendekatan baru untuk pengobatan penyakit ini.

Stem cell memiliki kemampuan untuk memperbarui diri dan berkembang menjadi berbagai jenis sel, sehingga hal ini dianggap berpotensi membantu regenerasi jaringan saraf yang rusak dan memodulasi respon imun.

Selain itu, sel ini juga dapat menghasilkan faktor neurotropik yang meningkatkan kelangsungan hidup dan fungsi jaringan saraf sekitarnya, serta memiliki efek imunomodulator yang mampu mengurangi peradangan. Hal ini juga berpotensi menjadikan stem cell sebagai pendekatan baru untuk mencegah progresivitas Multiple Sclerosis.

Jenis Stem Cell yang Digunakan untuk Multiple Sclerosis

Dalam upaya mengobati penyakit autoimun, terapi Stem Cell telah menjadi fokus penelitan, khususnya untuk Multiple Sclerosis. Terdapat dua jenis utama Stem Cell yang digunakan, yaitu:​

  1. Autologous Haematopoietic Stem Cell Transplant (AHSCT): jenis terapi ini menggunakan Stem Cell hematopoietik yang diambil dari pasien sendiri. Selain untuk membantu pembentukan sel darah, juga untuk memperbaiki atau menggantikan sistem kekebalan tubuh yang rusak. AHSCT menunjukkan efek yang signifikan terutama pada pasien dengan MS relapsing-remitting yang aktif, dengan hasil studi sebanyak 83% pasien tidak menunjukkan aktivitas penyakit selama dua tahun setelah transplantasi, dan sekitar 71% tidak mengalami peningkatan disabilitas selama sepuluh tahun. Meski demikian, metode ini memiliki risiko kemungkinan terjadinya infeksi akibat penekanan sistem kekebalan tubuh dan membutuhkan biaya yang tinggi.
  2. Mesenchymal Stem Cells (MSC): MSC memiliki salah satu kemampuan, yaitu regeneratif, yang dapat mengurangi proses peradangan dan membantu memperbaiki mielin yang rusak. Terapi ini bermanfaat terutama bagi pasien dengan MS progresif. Meskipun hasil penelitian awal pada hewan dan manusia menunjukkan keamanan dan potensi bermanfaat, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.

Tingkat Keberhasilan Berdasarkan Jenis Terapi Stem Cell untuk Multiple Sclerosis

Penggunaan terapi Stem Cell untuk Multiple Sclerosis menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Hasil terapi ini cukup bervariasi tergantung pada jenis sel yang digunakan. Salah satunya dengan terapi AHSCT, yang menunjukkan efikasi tinggi dalam menekan aktivitas peradangan dan perannya dalam memperbaiki gangguan neurologis, terutama pada pasien dengan Multiple Sclerosis berulang.

Sementara itu, terapi MSC juga telah menunjukkan hasil yang efektif dalam membantu memperbaiki kerusakan saraf pusat dan mengurangi peradangan. Namun, terapi ini juga memiliki efek samping seperti risiko infeksi, reaksi alergi, demam, ruam, dan penurunan jumlah neutrofil. Efek samping ini kemungkinan muncul akibat adanya kaitan dengan pemberian kemoterapi sebelum prosedur transplantasi dilakukan.

Terapi Stem Cell memiliki peluang untuk menjadi harapan baru dalam pengobatan Multiple Sclerosis, sesuai dengan hasil positif yang ditunjukkan dalam beberapa studi klinis. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menguji efektivitas dan keamanan terapi jangka panjang.

Jika Anda butuh informasi lebih lanjut, atau memiliki pertanyaan lain mengenai Stem Cell ataupun Secretome, Anda bisa kunjungi website resmi Regenic.


Sumber Referensi:

Weasler, P. (2023, August 2). Stem cell therapy: Uses, risks, how it works. Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/stem-cell-therapy-7553372

Wu, L., Lu, J., Lan, T., Zhang, D., Xu, H., Kang, Z., Peng, F., & Wang, J. (2024). Stem cell therapies: a new era in the treatment of multiple sclerosis. Frontiers in neurology, 15, 1389697. https://doi.org/10.3389/fneur.2024.1389697

(2024, May 23). Study finds stem cell therapy is safe and may benefit people with spinal cord injuries. Mayo Clinic https://www.mayoclinic.org/medical-professionals/neurology-neurosurgery/news/study-finds-stem-cell-therapy-is-safe-and-may-benefit-people-with-spinal-cord-injuries/mac-20567444

Hauser, S. L., & Cree, B. A. C. (2020). Treatment of Multiple Sclerosis: A Review. The American journal of medicine, 133(12), 1380–1390.e2. https://doi.org/10.1016/j.amjmed.2020.05.049​

Rekomendasi untuk kamu

article

Peran Terapi Stem Cell dalam Meningkatkan Fungsi Ovarium

Umum05 Dec 2025

Ovarium atau indung telur bukan hanya tempat sel telur matang, tapi juga berfungsi sebagai penghasil hormon penting seperti estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini berperan besar dalam menjaga kesuburan, keseimbangan hormon, serta kesehatan tubuh wanita secara keseluruhan.

article

Bagaimana Secretome Membantu Penyembuhan Multiple Sclerosis?

Saraf05 Dec 2025

Multiple Sclerosis (MS) merupakan penyakit kronis autoimun yang menyerang sistem saraf pusat, yaitu otak dan sumsum tulang belakang. Gejalanya dapat bervariasi tiap individu, mulai dari kelelahan, gangguan penglihatan, kelemahan otot, kesemutan, hingga kesulitan berjalan.

article

Potensi Regeneratif Secretome dalam Mengatasi Tumor Jinak Rahim

Umum05 Dec 2025

Tumor jinak rahim atau mioma uteri (fibroid) adalah pertumbuhan jaringan otot polos yang tidak bersifat kanker pada dinding rahim. Kondisi ini cukup umum, terutama pada wanita usia reproduktif. Gejalanya bisa sangat bervariasi, mulai dari menstruasi yang berat dan berkepanjangan, nyeri panggul, hingga gangguan kesuburan. Penyebab pasti mioma belum diketahui, tetapi faktor hormon (estrogen dan progesteron) serta genetika diyakini berperan besar.