Sumsum tulang belakang dan otak bertindak sebagai sistem saraf pusat yang menerima informasi melalui sistem saraf sensorik. Sistem saraf sensorik mengandung reseptor yang memungkinkan seseorang untuk merasakan rangsangan sentuhan, suhu, dan rasa nyeri. Rangsangan tersebut diteruskan ke sumsum tulang belakang dan otak untuk diproses lebih lanjut, sehingga tubuh akan merespons secara tepat terhadap situasi yang ada di lingkungan sekitar.
Tidak mungkin kita dapat merasakan sakit, panas, atau bahkan dingin tanpa adanya sistem tersebut. Namun demikian, semua yang disebutkan di atas sangat penting sebagai mekanisme perlindungan tubuh dari kemungkinan cedera. Sebagai contoh, rasa sakit adalah sinyal penting yang memberitahu seseorang untuk menarik diri dari bahaya atau dari tubuh yang dapat menimbulkan cedera.
Ada kemungkinan seseorang mengalami neuropati perifer, yang termasuk dalam gangguan fungsi saraf sensorik. Salah satu penyebab paling sering adalah diabetes mellitus, yang dikaitkan dengan kadar gula dalam darah. Ketika kadar gula darah seseorang tinggi dalam jangka waktu yang lama, hal ini dapat berisiko menyebabkan kerusakan pada saraf, sehingga menimbulkan gejala seperti sensasi kesemutan atau mati rasa, nyeri, bahkan kelemahan pada kaki atau tangan.
Trauma fisik, seperti kecelakaan atau patah tulang, dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf tepi. Selain itu, beberapa penyakit yang diklasifikasikan sebagai autoimun seperti multiple sclerosis, serta kondisi neurologis tertentu yang dialami oleh penyandang autisme, juga dapat dikaitkan dengan gangguan pada otak manusia dalam memproses dan mengenali rangsangan eksternal melalui aktivitas saraf.
Paparan zat toksik, seperti alkohol dan logam berat, diketahui dapat merusak bagian ini. Oleh karena itu, pencegahan terhadap penyakit kronis, penerapan gaya hidup yang sehat, serta perhatian terhadap pola makan merupakan hal yang sangat penting dalam upaya merawat fungsi saraf sensorik.
Baca Artikel Lainnya: Secretome sebagai Terapi Regeneratif untuk Penyakit Saraf
Bagaimana Stem Cell Dapat Membantu Pemulihan Saraf Sensorik?
Stem cell memiliki kemampuan yang besar dalam pemulihan saraf sensorik karena dapat memperbaiki dan mengganti sel-sel saraf sensorik yang tidak berfungsi. Sel ini dapat berdiferensiasi menjadi beberapa jenis sel tubuh, termasuk sel saraf sensorik.
Penelitian menunjukkan bahwa terapi Stem Cell, baik dari sumber endogen (dalam tubuh) maupun eksogen (luar tubuh), dapat mendukung proses regenerasi sel saraf sensorik dan membantu pemulihan fungsi sensorik yang hilang. Sebagai contoh, dalam penelitian tentang kehilangan pendengaran, Stem Cell telah digunakan untuk menghasilkan sel rambut baru di telinga bagian dalam, yang mampu mengembalikan fungsi pendengaran.
Jenis Stem Cell yang Digunakan dalam Terapi Saraf Sensorik
Setiap jenis Stem Cell memiliki keuntungan dan kelemahan yang berbeda-beda. Para peneliti terus menjelajahi jenis yang paling efisien untuk penanganan gangguan fungsi saraf sensorik dengan memanfaatkan Stem Cell. Berikut adalah penjelasannya:
- Stem Cell Mesenkimal (Mesenchymal Stem Cells/MSCs)
MSCs dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti sumsum tulang, jaringan adiposa, dan tali pusat. Sel-sel tersebut memiliki kemampuan berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel termasuk sel saraf. Penelitian menunjukkan bahwa MSCs dapat merangsang regenerasi saraf perifer dengan menstimulasi angiogenesis dan remyelinisasi. - Embryonic Stem Cells/ESCs
ESCs memiliki kemampuan berdiferensiasi menjadi hampir semua jenis sel di dalam tubuh, termasuk neuron sensorik. - Induced Pluripotent Stem Cells/iPSCs
iPSCs adalah sel dewasa yang telah diprogram ke dalam tingkat pluripoten, sehingga mereka siap berdiferensiasi menjadi sel jenis yang berbeda.
Baca Artikel Lainnya: Stem Cell untuk Penyembuhan Cedera Saraf Perifer
Prosedur Terapi Stem Cell untuk Saraf Sensorik
Proses terapi Stem Cell untuk saraf sensorik umumnya melibatkan beberapa langkah. Pertama, Stem Cell dipisahkan dari sumber yang relevan, seperti jaringan embrionik atau Stem Cell yang diinduksi. Kemudian, sel-sel ini ditanamkan ke area yang rusak, seperti telinga bagian dalam atau sumsum tulang belakang, setelah diproses di laboratorium. Pada beberapa kondisi, pasien mungkin perlu menjalani terapi imunosupresan untuk menghindari penolakan terhadap sel yang ditransplantasikan.
Penelitian dan Uji Klinis
Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang positif dalam penggunaan Stem Cell untuk perawatan saraf sensorik yang rusak, termasuk pemulihan fungsi saraf sensorik.
Berdasarkan penelitian di Jepang yang ditulis oleh Narihito Nagoshi, Hideyuki Okano, dan Masaya Nakamura, yang berjudul “Pengobatan Regeneratif untuk Cedera Tulang Belakang Menggunakan Sel iPS”, yang diterbitkan pada tahun 2020 di jurnal Neurological Therapeutics, membahas tentang Stem Cell pluripoten terinduksi (induced pluripotent Stem Cells atau iPSCs) sebagai metode pengobatan untuk cedera tulang belakang, dengan menggunakan terapi transplantasi sel untuk pemulihan fungsi neurologis yang hilang karena cedera.
Berdasarkan hasil analisa dari Kalia et al, Cai et al, Bhargava, N. dan Nagoshi et al, dapat disimpulkan bahwa iPSCs mampu berdiferensiasi menjadi beberapa tipe neuron dan sel glial yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan jaringan saraf. Namun, para peneliti juga menekankan pentingnya kajian lebih lanjut untuk mengatasi risiko yang masih ada, seperti tumorigenesis.
Baca Artikel Lainnya: Stem Cell untuk Pemulihan Saraf Motorik yang Rusak
Meskipun terapi stem cell menunjukkan potensi besar dalam terapi regeneratif, efektivitas berbagai kondisi dan keamanan jangka panjang dari terapi ini masih dalam penelitian lebih lanjut. Pemberian terapi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan medis masing-masing pasien.
Konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis profesional agar terapi dapat diberikan secara tepat dan aman. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut seputar terapi sel (stem cell dan secretome), Anda dapat menghubungi layanan kesehatan mitra Regenic.
Sumber Referensi:
- American Diabetes Association. "Understanding Neuropathy and Your Diabetes." https://diabetes.org/about-diabetes/complications/neuropathy
- Mayo Clinic. "Peripheral Neuropathy - Symptoms and Causes." https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/peripheral-neuropathy/symptoms-causes/syc-20352061
- National Institute of Neurological Disorders and Stroke. "Multiple Sclerosis Information Page." https://www.ninds.nih.gov/health-information/disorders/multiple-sclerosis
- World Health Organization. "Neurological Disorders: Public Health Challenges." https://www.who.int/publications/i/item/9789241563369
- Waqas, M., Us-Salam, I., Bibi, Z., Wang, Y., Li, H., Zhu, Z., & He, S. (2020). Stem cell-based therapeutic approaches to restore sensorineural hearing loss in mammals. Neural Plasticity, 2020, 8829660. https://doi.org/10.1155/2020/8829660
- Han, Y., Li, X., Zhang, Y., Han, Y., Chen, J., & Zhang, Y. (2016). Human bone marrow-derived mesenchymal stem cells for treating diabetic peripheral neuropathy in rats: A comparison of administration routes. Cell Transplantation, 25(10), 1753–1766. https://doi.org/10.3727/096368915X688209
- Cai, S., Han, Z., Zhang, J., Chen, D., Wang, H., Yuan, J., Zhang, Z., & Zhou, Q. (2017). Human embryonic stem cell-derived sensory neurons facilitate regeneration of dorsal root axons in the injured spinal cord. Stem Cells Translational Medicine, 6(2), 361–372. https://doi.org/10.5966/sctm.2015-0424
- Kalia, M., Arzanlou, M., Merrell, E., Vasquez, A., & Sivaraj, K. K. (2024). Efficient generation of human peripheral sensory neurons from induced pluripotent stem cells. Stem Cell Research & Therapy, 15(1), Article 24. https://doi.org/10.1186/s13287-024-03696-2
- Bhargava, N. (2025, April 7). Japan's stem cell miracle: Paralyzed man walks unassisted. Medindia. https://www.medindia.net/news/healthwatch/japans-stem-cell-miracle-paralyzed-man-walks-unassisted-219486-1.htm