Penyakit Alzheimer adalah penyakit otak yang bisa menurunkan daya ingat, berpikir dan berbicara, serta perilaku. Penyakit Alzheimer ini merupakan gangguan neurodegeneratif berupa kehilangan struktur dan fungsi sel-sel saraf sehingga kemampuan kognitif menurun.
Pada fase awal, penderita Alzheimer akan kehilangan memori jangka pendek, seperti lupa hal-hal yang baru dibicarakan dan sering mengajukan pertanyaan berulang-ulang. Kemudian berkembang menjadi kesulitan berbicara, mengambil keputusan, hingga kehilangan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Penyebab penyakit Alzheimer berhubungan dengan kematian sel saraf. Faktor genetik juga berperan dalam meningkatkan risiko penyakit ini. Pengobatan konvensional untuk Alzheimer saat ini hanya berfokus pada mengelola gejala, bukan menyembuhkan penyakitnya. Obat-obatan tersebut seperti inhibitor kolinesterase (donepezil, rivastigmine) dan antagonis reseptor NMDA (memantine).
Pengobatan tersebut dapat membantu memperlambat penurunan kognitif, tetapi tidak menghentikan kerusakan otak yang terjadi. Di sinilah terapi stem cell muncul sebagai harapan baru. Terapi stem cell menjadi opsi yang menjanjikan karena potensinya dalam meregenerasi sel saraf yang rusak dan meningkatkan fungsi otak pasien dengan penyakit Alzheimer.
Bagaimana Stem Cell Bekerja dalam Mengatasi Alzheimer?
Stem cell bekerja dalam mengatasi Alzheimer melalui beberapa mekanisme. Stem cell berkemungkinan berdiferensiasi menjadi sel saraf baru yang dapat menggantikan neuron yang telah rusak. Stem cell juga berpotensi dalam mengurangi peradangan di otak serta meningkatkan pelepasan faktor neurotropik yang berfungsi melindungi neuron dari degenerasi lebih lanjut.
Dalam beberapa penelitian, terapi stem cell menunjukkan potensi dalam memperbaiki jaringan otak yang telah mengalami kerusakan akibat penumpukan plak beta-amiloid. Terapi stem cell untuk penyakit Alzheimer ini diharapkan dapat meningkatkan hubungan antara neuron, sehingga fungsi kognitif pasien dapat lebih terjaga.
Baca Artikel Lainnya: Peran Stem Cell dalam Perbaikan Fungsi Memori pada Alzheimer
Jenis Stem Cell yang Digunakan untuk Terapi Alzheimer
Beberapa jenis stem cell yang telah diteliti untuk pengobatan Alzheimer memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda-beda. Mesenchymal Stem Cells (MSCs) adalah salah satu jenis yang paling umum digunakan. MSCs dapat diambil dari sumsum tulang, jaringan lemak (adiposa), atau tali pusat. Sel ini dikenal karena potensinya untuk mengurangi peradangan dan melindungi sel saraf (neuroprotektif), sehingga diharapkan membantu mencegah kerusakan lebih lanjut pada otak.
Neural Stem Cells (NSCs) merupakan jenis sel punca yang dapat ditemukan dalam jaringan otak. NSCs memiliki potensi kemampuan diferensiasi yang tinggi menjadi sel saraf (neuron) dan sel pendukung saraf (seperti astrosit dan oligodendrosit). NSCs memiliki keunggulan karena potensial untuk berkembang menjadi sel saraf (neuron) secara efektif, menjadikannya pilihan yang menjanjikan untuk regenerasi sel otak yang rusak.
Di sisi lain, Induced Pluripotent Stem Cells (iPSCs) adalah sel dewasa (misalnya sel kulit atau darah) yang diprogram ulang di laboratorium untuk kembali ke fase pluripotensi, menyerupai sifat sel punca embrionik. iPSCs berpotensi dapat berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel, termasuk sel saraf, dan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pasien sehingga menawarkan potensi besar dalam pengobatan yang lebih personal.
Masing-masing jenis stem cell ini memiliki potensi peran penting dalam upaya memperbaiki kerusakan otak dan meningkatkan fungsi kognitif pada pasien Alzheimer.
Baca Artikel Lainnya: Efek Terapeutik Secretome dari Stem Cell Mesenkimal pada Penyakit Alzheimer
Metode Pemberian Stem Cell pada Pasien Alzheimer
Metode pemberian terapi stem cell untuk pasien Alzheimer melibatkan beberapa tahap yang terstruktur. Pertama, pengambilan sampel sel dilakukan dengan mengambil stem cell dari sumber yang sesuai, seperti sumsum tulang, jaringan lemak (adiposa), atau tali pusat. Setelah diambil, sel-sel tersebut dibawa ke laboratorium untuk diproses. Di laboratorium, stem cell diisolasi dan dikultur (dalam kondisi khusus) agar jumlahnya dapat diperbanyak dan siap digunakan untuk terapi.
Setelah stem cell siap, tahap selanjutnya adalah pemberian sel. Stem cell yang sudah diproses disuntikkan ke tubuh pasien, dapat dilakukan melalui pembuluh darah (intravena) atau berbagai jalur lain, tergantung pada rekomendasi dokter dan kondisi pasien.
Setelah pemberian sel, pasien akan menjalani pemantauan berkala untuk menilai perkembangan dan efek terapi. Pemantauan ini meliputi pemeriksaan fisik, tes kognitif, dan pemindaian otak untuk memastikan bahwa terapi memberikan hasil yang diharapkan. Dengan prosedur yang terarah ini, terapi stem cell diharapkan dapat membantu memperbaiki kerusakan otak dan meningkatkan kualitas hidup pasien Alzheimer.
Baca Artikel Lainnya: Stem Cell untuk Demensia: Peluang Baru Pengobatan
Efektivitas Stem Cell Berdasarkan Studi Klinis
Pada jurnal dengan judul Potensi Terapi Sel Punca untuk Penyakit Alzheimer: Kenyataan atau Harapan?. Mengkaji bagaimana potensi penggunaan terapi sel punca dalam mengatasi penyakit Alzheimer (AD). Strategi utama yang diusulkan adalah memanfaatkan sel punca untuk menggantikan neuron yang rusak akibat proses neurodegeneratif pada AD.
Hasilnya, pada model hewan, terapi sel punca menunjukkan peningkatan kadar asetilkolin, yang berperan dalam perbaikan kognisi dan memori. Selain itu, sel punca dapat mensekresi faktor neurotropik untuk memodulasi neuroplastisitas dan neurogenesis.
Stem cell tidak hanya membantu memperbaiki kerusakan otak, tetapi juga berpotensi meningkatkan fungsi kognitif secara keseluruhan. Dengan memperbaiki koneksi saraf dan mengurangi peradangan, stem cell diharapkan membantu pasien Alzheimer mempertahankan kemampuan berpikir, mengingat, dan berinteraksi lebih baik. Hal ini memberikan harapan baru untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan memperlambat perkembangan penyakit.
Terapi stem cell menawarkan harapan baru dalam pengobatan Alzheimer dengan potensi untuk meregenerasi sel saraf, mengurangi peradangan otak, dan meningkatkan fungsi kognitif. Meskipun masih dalam tahap penelitian, hasil awal menunjukkan bahwa terapi ini efektif.
Bagi pasien Alzheimer yang membutuhkan terapi stem cell, konsultasi dengan dokter spesialis sangat disarankan. Untuk itu, Anda dapat mengunjungi layanan kesehatan mitra kami untuk berkonsultasi terkait efektifitas terapi stem cell untuk penyakit Alzheimer, atau langsung hubungi tim ahli Regenic.
Referensi:
- Nasution, E. S., Kemalahayati, A. D., & Fachrul, M. A. (2024). Literature Review: Efektivitas antara Terapi Stem Cell dan Terapi Herbal Picein pada Alzheimer Disease. Al-Iqra Medical Journal: Jurnal Berkala Ilmiah Kedokteran, 7(2). Diakses dari https://journal.unismuh.ac.id/index.php/aimj/article/view/11786/pdf
- Purba, J. S. (2020). Potensi Terapi Sel Punca untuk Penyakit Alzheimer: Kenyataan atau Harapan? Cermin Dunia Kedokteran, 47(1), 52–58. Diakses dari https://media.neliti.com/media/publications/399913-potensi-terapi-sel-punca-untuk-penyakit-acfd77ac.pdf
- Liu, X., Li, Y., Zhang, C., Zhang, Y., & Dong, H. (2020). Stem cell therapy for Alzheimer's disease. World Journal of Stem Cells, 12(8), 787–802. Diakes dari https://doi.org/10.4252/wjsc.v12.i8.787