Saraf motorik merupakan bagian penting dari sistem saraf yang bertanggung jawab mengirimkan sinyal dari otak dan sumsum tulang belakang ke otot, agar tubuh dapat bergerak. Ketika saraf motorik mengalami kerusakan, kemampuan seseorang untuk bergerak dapat terganggu secara signifikan, bahkan sampai mengalami kelumpuhan.
Penyebab kerusakan saraf motorik bisa berbeda-beda. Beberapa di antaranya termasuk cedera tulang belakang, stroke, penyakit autoimun seperti multiple sclerosis dan amyotrophic lateral sclerosis (ALS), serta infeksi atau komplikasi pasca operasi. Kerusakan ini dapat bersifat sementara ataupun permanen tergantung pada seberapa parah kondisi yang terjadi.
Gejala yang muncul cukup bervariasi, mulai dari kelemahan otot, kesulitan menggerakkan anggota tubuh, gangguan koordinasi, hingga refleks tubuh yang menurun. Dalam beberapa kasus, pasien juga mengalami nyeri atau sensasi seperti terbakar di area tertentu.
Dampak dari kondisi ini tidak hanya secara fisik, namun juga memengaruhi psikologis. Keterbatasan aktivitas sehari-hari dapat menyebabkan menurunnya kepercayaan diri pasien, bahkan hingga depresi. Oleh karena itu, pemulihan fungsi saraf motorik menjadi sangat penting dalam proses rehabilitasi.
Salah satu pilihan alternatif pengobatan yang saat ini sedang dikembangkan, seperti terapi stem cell, menjadi peluang sebagai solusi yang efektif. Terapi ini berpotensi dapat membantu meregenerasi jaringan saraf yang rusak dan pemulihan fungsi motorik tubuh yang lebih efektif.
Baca Artikel Lainnya: Secretome sebagai Terapi Regeneratif untuk Penyakit Saraf
Bagaimana Stem Cell Membantu Pemulihan Saraf Motorik?
- Penggantian Sel yang Rusak: Stem cell berpotensi untuk berdiferensiasi menjadi sel-sel saraf motorik baru, yang dapat menggantikan sel-sel yang telah mati atau rusak. Sehingga hal ini diharapkan dapat berperan dalam membantu memulihkan jalur komunikasi antara otak/tulang belakang dan otot.
- Merangsang Regenerasi Akson: Akson adalah bagian dari sel saraf yang berfungsi untuk mengirimkan sinyal ke sel lain. Kerusakan akson seringkali menjadi penyebab utama gangguan fungsi motorik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stem cell dapat melepaskan faktor pertumbuhan (growth factors) yang dapat merangsang proses pertumbuhan kembali (regenerasi) pada akson yang yang mengalami kerusakan.
- Meregenerasi Sel Saraf: Selain berperan dalam membantu memperbaiki sel saraf yang rusak, stem cell juga dapat menciptakan lingkungan mikro yang lebih kondusif untuk proses pemulihan termasuk melepaskan berbagai molekul yang memungkinkan untuk membantu mengurangi peradangan, meningkatkan aliran darah ke area yang rusak, dan melindungi sel-sel saraf yang masih sehat dari kerusakan lebih lanjut.
Baca Artikel Lainnya: Bisakah Stem Cell Mengembalikan Fungsi Saraf Sensorik?
Jenis Stem Cell yang Digunakan dalam Terapi Saraf Motorik
- Mesenchymal Stem Cells (MSCs)
MSCs merupakan jenis stem cell yang paling banyak diteliti dan digunakan dalam berbagai terapi regeneratif, termasuk untuk gangguan saraf motorik. MSCs dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti sumsum tulang, jaringan lemak, tali pusat, dan darah tepi. Salah satu keunggulannya adalah kemampuannya untuk berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel, termasuk sel yang berpotensi dalam proses perbaikan saraf. - Neural Stem Cells (NSCs)
NSCs merupakan jenis stem cell yang secara spesifik dapat berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel saraf, termasuk neuron dan sel glial (sel pendukung saraf). NSCs dapat diperoleh dari jaringan otak atau tulang belakang. - Induced Pluripotent Stem Cells (iPSCs)
iPSCs merupakan sel dewasa yang telah diprogram ulang menjadi sel yang memiliki kemampuan pluripoten, yang memungkinkan dapat berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel tubuh, termasuk sel saraf motorik.
Pemilihan jenis stem cell yang digunakan dalam terapi saraf motorik akan disesuaikan dengan jenis kerusakan saraf dan kondisi pasien. Meski terapi ini menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.
Prosedur Terapi Stem Cell untuk Saraf Motorik
Prosedur terapi stem cell untuk kerusakan saraf motorik dapat bervariasi, tergantung pada jenis stem cell yang digunakan. Namun, secara umum prosedurnya meliputi:
- Pengambilan Stem Cell: Jika menggunakan MSCs autologous, stem cell diambil dari tubuh pasien sendiri, biasanya melalui sumsum tulang belakang atau jaringan lemak. Jika menggunakan iPSCs, sel dewasa seperti sel kulit atau darah akan diambil dan diprogram ulang di laboratorium.
- Pemrosesan dan Kultur Stem Cell: Setelah diambil, stem cell akan diproses di laboratorium khusus. MSC biasanya diperbanyak (dikultur) untuk mendapatkan jumlah sel yang cukup untuk terapi. Sedangkan iPSCs akan melalui proses diferensiasi yang terkontrol untuk menghasilkan sel-sel saraf motorik.
- Pemberian Stem Cell: Stem cell yang telah diproses dan disiapkan akan diberikan kembali ke tubuh pasien.
- Rehabilitasi dan Pemantauan: Setelah prosedur selesai dilakukan, pasien akan menjalani program rehabilitasi secara intensif, seperti fisioterapi dan terapi okupasi untuk membantu mengembalikan fungsi motorik. Selain itu, pemantauan secara berkala juga dilakukan guna mengevaluasi respons tubuh terhadap terapi, efek samping yang mungkin muncul, serta perkembangan fungsi neurologis.
Baca Artikel Lainnya: Stem Cell untuk Penyembuhan Cedera Saraf Perifer
Penelitian dan Uji Klinis
Sebuah studi berjudul “Mesenchymal stem cell-derived exosomes improve motor function and attenuate neuropathology in a mouse model of Machado-Joseph disease” meneliti stem cell untuk pemulihan saraf motorik.
Studi ini meneliti efek eksosom yang berasal dari Mesenchymal Stem Cells (MSCs) pada tikus model penyakit Machado-Joseph (MJD), suatu bentuk ataksia herediter autosomal dominan yang paling umum dan saat ini belum memiliki pengobatan efektif. Eksosom adalah vesikel kecil yang mengandung berbagai molekul bioaktif dan diketahui memiliki potensi terapeutik dalam berbagai kondisi neurologis.
Dalam studi ini, eksosom MSCs diisolasi melalui teknik kromatografi pertukaran anion (anion exchange chromatography) dan diberikan secara intravena pada ekor tikus transgenik YACMJD84.2 sebelum munculnya gejala klinis. Fungsi motorik tikus dinilai setiap dua minggu menggunakan uji rotarod, sementara analisis neuropatologi dilakukan delapan minggu setelah pemberian eksosom.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus yang menerima eksosom MSC dapat mempertahankan koordinasi motorik yang lebih baik selama enam minggu dibandingkan dengan tikus tanpa terapi eksosom. Selain itu juga ditemukan pengurangan kehilangan mielin di otak kecil dan berkurangnya tanda-tanda peradangan saraf (neuroinflamasi), serta peningkatan rasio Bcl-2/Bax yang menunjukkan adanya pengurangan kehilangan sel Purkinje.
Dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa eksosom yang berasal dari MSC berperan dalam meningkatkan fungsi motorik dan mengurangi kerusakan neuropatologi pada model tikus MJD, sehingga memiliki potensi sebagai salah satu terapi untuk penyakit ini.
Meskipun hasil penelitian ini menunjukkan potensi yang menjanjikan pada uji klinis hewan, penerapan terapi pada manusia masih menghadapi berbagai tantangan dan keterbatasan, seperti efektivitas jangka panjang, keamanan, serta respons imun. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan manfaat terapi stem cell serta membandingkannya secara langsung dengan terapi konvensional yang sudah ada.
Terapi stem cell berpeluang menjadi salah satu solusi efektif yang berpotensi dapat membantu meregenerasi jaringan saraf yang rusak dan pemulihan fungsi motorik tubuh. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanan dari terapi sel (stem cell dan secretome) dalam berbagai kondisi klinis.
Konsultasi dengan tenaga medis profesional sangat disarankan agar terapi ini dapat diberikan secara tepat, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan medis masing-masing pasien. Apabila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut seputar terapi sel stem cell dan secretome, Anda dapat menghubungi layanan kesehatan mitra Regenic. Pantau terus perkembangan terkini dunia Stem Cell Indonesia secara akurat hanya di Regenic.
Referensi:
- Anna Andrzejewska, Sylwia Dabrowska, Barbara Lukomska, Miroslaw Janowski (2021). Mesenchymal Stem Cells for Neurological Disorders. Diakses dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8024997/
- You, H.-J., Fang, S.-B., Wu, T.-T., Zhang, H., Feng, Y.-K., Li, X.-J., Yang, H.-H., Li, G., Li, X.-H., Wu, C., Fu, Q.-L., & Pei, Z. (2020). Mesenchymal stem cell-derived exosomes improve motor function and attenuate neuropathology in a mouse model of Machado-Joseph disease. Stem Cell Research & Therapy, 11, Article 222. Diakses dari https://stemcellres.biomedcentral.com/articles/10.1186/s13287-020-01727-2
- National Institute of Neurological Disorders and Stroke. (2025). Motor neuron diseases. National Institutes of Health. Diakses dari https://www.ninds.nih.gov/health-information/disorders/motor-neuron-diseases
- Lunn, J. S., Sakowski, S. A., Federici, T., Glass, J. D., Boulis, N. M., & Feldman, E. L. (2011). Stem cell technology for the study and treatment of motor neuron diseases. Regenerative Medicine, 6(2), 201–213. Diakses dari https://doi.org/10.2217/rme.11.6