Depresi PDD atau Persistent Depressive Disorder merupakan jenis depresi berkepanjangan dengan durasi lebih dari dua tahun. Gejala yang dirasakan menyerupai gejala depresi mayor atau depresi berat, seperti perasaan sedih yang berkepanjangan, kehilangan semangat atau minat, gangguan tidur seperti insomnia, serta munculnya rasa rendah diri.
Meskipun kondisinya mungkin tidak seberat depresi mayor, depresi yang dialami bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Hal ini dapat menyebabkan banyak orang yang mengira perasaan tersebut adalah hal yang normal, sehingga tidak menyadari bahwa mereka mengalami gangguan kesehatan mental.
Pengobatan tahap awal sangat berpengaruh terhadap efektivitas pengobatan. PDD memiliki respon pengobatan yang lebih lambat dan lebih mudah mengalami kekambuhan dibanding penderita depresi mayor. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi penanganan jangka panjang yang berkesinambungan dan terintegrasi, yang bertujuan untuk mengurangi gejala hingga pemulihan sosial.
Kombinasi terapi psikologis dan konsumsi antidepresan, merupakan pendekatan pengobatan PDD yang direkomendasikan. Terapi perilaku kognitif (CBT) atau Interpersonal Therapy (IPT) dapat membantu meringankan gejala dan meningkatkan angka kualitas hidup pada sebagian penderita. Meskipun pengobatan menggunakan antidepresan saja tidak selalu memberikan hasil yang optimal, kombinasi antara kedua terapi tersebut menunjukkan efektivitas yang lebih baik.
Salah satu tantangan terbesar dalam terapi adalah memotivasi pasien yang terjebak dalam pola pikir negatif yang sudah lama terbentuk. Oleh karena itu, membangun hubungan yang baik dengan pasien sangatlah penting. Selain itu, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga berperan penting dalam mendukung proses pemulihan pasien dari depresi kronis.
Baca Artikel Lainnya: Stem Cell dan Gangguan Kecemasan: Studi Terbaru
Bagaimana Terapi Stem Cell Dapat Membantu Mengatasi Depresi Kronis ?
Persistent Depressive Disorder (PDD) adalah depresi jangka panjang yang berlangsung lebih dari dua tahun. Kondisi ini memengaruhi kerja otak, seperti keseimbangan kimia dan kemampuan beradaptasi. Terapi stem cell dinilai menjanjikan karena bisa membantu memperbaiki sel otak yang rusak dan mengurangi gejala depresi.
Perawatan ini berpotensi membantu mengembalikan fungsi otak yang terdampak oleh depresi kronis. Beberapa temuan melaporkan bahwa sekitar 68% kasus menunjukkan hasil yang positif pada terapi Stem cell dalam membantu mengurangi gejala depresi dengan cara modulasi sinyal inflamasi.
Jenis Stem Cell yang Digunakan untuk Pengobatan Depresi Kronis
Beberapa tipe Stem Cells yang pernah diteliti untuk penanganan depresi yang bersifat kronis, antara lain:
1. Mesenchymal Stem Cell (MSC)
Salah satu jenis Stem Cell yang banyak diaplikasikan dalam berbagai terapi, termasuk dalam pengobatan depresi adalah Mesenchymal Stem Cells (MSCs). Jenis ini dapat diperoleh dari sumsum tulang, jaringan adiposa, dan juga tali pusat. Terapi sel MSCs memiliki potensi besar karena kemampuannya dalam memodulasi sistem kekebalan tubuh dan menurunkan tingkat inflamasi. Kedua hal tersebut merupakan salah satu faktor utama yang berperan dalam perkembangan dan penanganan depresi.
2. Induced Pluripotent Stem Cell (iPSC)
iPSCs merupakan sel yang telah dikembalikan ke bentuk seperti semula sehingga hal ini dapat berubah menjadi beraneka ragam jenis sel tubuh. Sel ini biasanya digunakan untuk beradaptasi mengenai perubahan yang terjadi dalam suatu penyakit sehingga mencari terapi baru. Pada kasus depresi, iPSCs dapat membantu meregenerasi jaringan saraf dan untuk mempelajari cara kerja depresi yang terjadi dalam tingkat biologis.
Baca Artikel Lainnya: Regenerasi Sel Otak untuk Mengatasi Bipolar Disorder
Prosedur Terapi Stem Cell untuk Depresi Kronis
- Pengambilan dan Kultur Sel: Langkah awal terapi untuk gangguan depresi, Stem Cell diambil dari berbagai sumber, seperti sumsum tulang atau jaringan lemak. Selanjutnya sel tersebut akan dikultur dan diperbanyak di laboratorium sehingga jumlah mencukupi.
- Pengolahan dan Pemurnian: Sel-sel yang telah dikultur, selanjutnya akan diolah lebih lanjut untuk memperoleh kualitas yang sesuai sebelum digunakan sebagai terapi.
- Pengantaran Sel: Dalam tahap ini, Stem Cell yang sudah siap akan disuntikkan ke dalam tubuh pasien. Prosedur ini dapat disuntikkan melalui intravena atau intracerebral, bergantung pada protokol medis yang digunakan pada pengobatan Stem Cell untuk gangguan depresi.
Hasil Penelitian dan Studi Klinis Terbaru
Beberapa penelitian menunjukkan hasil harapan dalam Stem Cell therapy untuk depresi diabetes. Seperti dalam beberapa percobaan pada tikus, Stem Cell Mesenchymal (MSCs) dapat mengurangi pola perilaku depresi melalui intervensi inflamasi dan peningkatan neuroplastisitas.
Stem cell pluripoten terinduksi (iPSC) yang dilaporkan sejumlah studi menunjukkan potensi besar dalam memodelkan penyakit dan mengembangkan target terapi baru. Salah satu pendekatan yang menonjol adalah regenerasi saraf otonom dari Stem Cell yang bertujuan untuk memperbaiki sistem syaraf yang berperan dalam munculnya gejala depresi.
Dalam artikel ulasannya, Villanueva dari penelitian internasional tengah mengembangkan terapi depresi berbasis sel. Meskipun terapi ini menunjukkan potensi yang menjanjikan, dibutuhkan lebih banyak penelitian praklinis dan klinis untuk memastikan efektivitas terapi serta keamanannya dalam jangka panjang.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Terapi Stem Cell untuk Depresi Kronis
- Kualitas Sel: Pada setiap pengobatan, kualitas dan kemurnian Stem Cell yang digunakan berpengaruh besar pada hasil yang diinginkan.
- Metode Pengantaran: Terdapat berbagai metode pengantaran sel. Beberapa diantaranya menjadi lebih efektif tergantung pada target pengobatan. Metode pengantaran yang tepat dapat menghasilkan respon terapi yang lebih baik dan efektif.
- Respons Individual: Merespon terapi selangkah lebih maju, faktor usia, serta tingkat kesehatan secara keseluruhan terkadang mempengaruhi hasil seorang pasien.
Baca Artikel Lainnya: Stem Cell untuk Mengatasi Gangguan Tidur Kronis Insomnia
Stem cell memberikan prospek baru untuk bagi para ilmuwan dalam pengobatan depresi berat. Meskipun sejumlah studi telah menunjukkan hasil yang positif, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengevaluasi askep keamanan, validitas, serta efektivitas jangka panjang terapi.
Setiap orang memiliki respons yang berbeda pada terapi ini, maka dari itu dengan pemahaman antar individu sangat penting untuk diketahui agar terapi berjalan dengan optimal.
Untuk itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang terapi regeneratif untuk pengobatan masalah depresi seperti terapi stem cell atau secretome, silakan hubungi tim ahli Regenic
Sumber Referensi:
- Cuijpers, P., van Straten, A., Schuurmans, J., van Oppen, P., Hollon, S. D., & Andersson, G. (2010). Psychotherapy for chronic major depression and dysthymia: a meta-analysis. Clinical Psychology Review, 30(1), 51–62. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2009.09.003
- Klein, D. N., Santiago, N. J., Vivian, D., Blalock, J. A., Kocsis, J. H., Markowitz, J. C., ... & Keller, M. B. (2003). Cognitive-behavioral analysis system of psychotherapy as a maintenance treatment for chronic depression. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 71(6), 997–1006. https://doi.org/10.1037/0022-006X.71.6.997
- McCullough, J. P., Lord, J. M., Conley, J., & Martin, A. M. (2011). Treatment for Chronic Depression: Cognitive Behavioral Analysis System of Psychotherapy (CBASP). Guilford Press. https://www.guilford.com/books/Treatment-for-Chronic-Depression/James-McCullough/9781572309654
- Schramm, E., Kriston, L., Zobel, I., Bailer, J., Wambach, K., Backenstrass, M., ... & Berger, M. (2017). Effect of disorder-specific vs nonspecific psychotherapy for chronic depression: A randomized clinical trial. JAMA Psychiatry, 74(3), 233–242. https://doi.org/10.1001/jamapsychiatry.2016.3880
- Cuijpers, P., Karyotaki, E., Weitz, E., Andersson, G., Hollon, S. D., & van Straten, A. (2014). The effects of psychotherapies for major depression in adults on remission, recovery and improvement: A meta-analysis. Journal of Affective Disorders, 159, 118–126. https://doi.org/10.1016/j.jad.2014.02.026
- Villanueva, R. (2025). Stem cell therapy for the treatment of psychiatric disorders: A real hope for the next decades. Frontiers in Psychiatry, 15, 1492415. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2024.1492415