Efek Samping Terapi Secretome: Yang Umum hingga Jarang Terjadi

Efek Samping Terapi Secretome: Yang Umum hingga Jarang Terjadi

Terapi secretome adalah bentuk cell-free therapy, yaitu menggunakan molekul hasil sekresi sel punca mesenkimal (mesenchymal stem cells/MSC) seperti sitokin, faktor pertumbuhan (growth factors), eksosom, dan vesikel ekstraseluler. 

Molekul-molekul ini bekerja dengan cara membantu mengatur sistem imun, meredakan peradangan, serta mempercepat proses regenerasi jaringan, tanpa perlu melakukan transplantasi sel hidup.

Pertanyaan yang sering diajukan pasien adalah apakah terapi ini aman? Berdasarkan berbagai studi praklinis maupun uji klinis, terapi secretome terbukti memiliki profil keamanan yang baik. Sebagian besar efek samping yang dilaporkan bersifat ringan dan dapat hilang dengan sendirinya, sementara kejadian serius sangat jarang ditemukan.

Profil Efek Samping: Dari Umum Hingga Jarang



Efek Samping yang Umum

Sebagian besar studi melaporkan reaksi minimal:

Iritasi lokal ringan: Beberapa pasien mengalami kemerahan, rasa hangat, atau sedikit bengkak di area injeksi. Gejala ini biasanya hilang dalam 24–48 jam tanpa terapi tambahan.

Gangguan pencernaan ringan: Dalam penelitian terkait penggunaan secretagogues (senyawa yang memicu sekresi mirip secretome) pada sindrom iritasi usus (IBS-C), efek samping yang lebih sering dilaporkan adalah diare ringan dan mual.

Pusing atau kelelahan ringan: Dilaporkan pada sebagian kecil pasien, biasanya bersifat sementara.

Efek Samping Jarang Terjadi

Hasil uji klinis terbaru menunjukkan insiden efek samping serius sangat rendah:

Tidak ditemukan kejadian fatal: Dalam uji klinis fase I/II untuk pasien COVID-19, pemberian secretome secara intravena tidak menimbulkan efek toksik maupun reaksi imun yang berat.

Reaksi alergi berat: Hingga kini, tidak ada laporan anafilaksis pada terapi secretome berbasis MSC.

Infeksi: Risiko infeksi sekunder hampir nol berkat proses produksi secretome yang mengikuti standar Good Manufacturing Practice (GMP), termasuk uji sterilitas berlapis.

Baca artikel lainnya: Secretome: Harapan Baru untuk Penyakit Kronis

Monitoring Keselamatan: Follow-up dan Pelaporan KTD

Protokol Pemantauan

Setelah menerima terapi secretome, pasien tidak langsung dibiarkan pulang tanpa pengawasan. Klinik biasanya melakukan pemantauan ketat, seperti:

Pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu) selama 30 menit hingga 1 jam setelah pemberian.

Follow-up klinis di hari ke-3, ke-7, dan minggu ke-4 untuk memastikan tidak ada keluhan atau efek samping yang muncul belakangan.

Evaluasi biomarker tertentu untuk melihat apakah ada tanda peradangan atau perubahan pada respons imun tubuh.

Pelaporan Kejadian Tidak Diinginkan (KTD)

Klinik yang sudah bersertifikasi GMP (Good Manufacturing Practice) dan ISO 9001 wajib menerapkan standar tinggi dalam pelaporan keselamatan. Prosedurnya meliputi:

Mencatat semua KTD, baik yang ringan maupun serius.

Melaporkan insiden serius kepada komite etik dan otoritas terkait bila ada potensi risiko terhadap pasien.

Menjalankan SOP manajemen insiden, sehingga penyebab bisa segera diidentifikasi dan ditangani dengan cepat.

Dengan sistem pemantauan dan pelaporan ini, keamanan pasien tetap menjadi prioritas utama, sekaligus memastikan terapi secretome diberikan dengan standar klinis yang terukur dan transparan.


Kontraindikasi & Kewaspadaan Klinis

Meskipun terapi secretome dinilai cukup aman, namun ada beberapa kelompok pasien yang perlu perhatian khusus sebelum menjalani prosedur ini:

Pasien dengan gangguan imun berat: berisiko mengalami respons imun yang sulit diprediksi.

Ibu hamil dan menyusui: hingga saat ini belum ada cukup bukti klinis yang memastikan keamanan terapi pada kondisi ini.

Pasien dengan riwayat alergi berat terhadap komponen biologis: memerlukan skrining ketat sebelum menjalani terapi.

Pada kondisi-kondisi tersebut, pemberian secretome sebaiknya dilakukan dengan pendekatan individual, di bawah pengawasan dokter, dan dengan monitoring yang lebih hati-hati.

Baca artikel lainnya: Secretome vs PRP, Mana yang Lebih Ampuh untuk Kecantikan?

Hasil Penelitian dan Studi Klinis Terbaru

Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa terapi secretome memiliki profil keamanan yang baik, bahkan ketika digunakan pada berbagai kondisi klinis.

Pada kasus COVID-19 berat, sebuah uji klinis yang melibatkan 40 pasien (Fathi-Kazerooni, 2022) menemukan bahwa pemberian secretome tidak menimbulkan efek samping serius. Sebaliknya, terapi ini justru membantu meningkatkan kadar oksigen pasien sehingga mempercepat pemulihan.

Hasil serupa juga terlihat pada pasien dengan psoriasis vulgaris. Studi kecil yang dilakukan pada 12 orang dari Elgueta (2025) melaporkan tidak ada efek samping sistemik yang muncul, dan sebagian besar pasien mengalami perbaikan gejala tanpa komplikasi.

Di bidang oftalmologi, secretome juga diuji pada ulkus kornea pada anjing. Dari 10 kasus yang diteliti oleh Casado-Santos (2025), tidak ditemukan efek merugikan, dan proses penyembuhan luka berlangsung lebih cepat dibanding terapi standar.

Sementara itu, pada terapi kecantikan dan estetika, penelitian terhadap 60 pasien dengan alopecia androgenetik (rambut rontok pola pria/wanita) menunjukkan bahwa efek samping lebih banyak terjadi pada kelompok yang menggunakan minoxidil dibandingkan kelompok yang mendapat secretome (Legiawati, 2025). Hal ini menegaskan bahwa secretome berpotensi menjadi pilihan terapi yang lebih aman dibanding pengobatan topikal konvensional.

Secara keseluruhan, temuan dari berbagai penelitian ini menguatkan bahwa secretome bukan hanya efektif, tetapi juga memiliki tingkat keamanan yang tinggi pada berbagai indikasi klinis.

Baca artikel lainnya: 5 Hal yang Harus Dihindari Setelah Terapi Secretome

Secara umum, terapi secretome menunjukkan profil keamanan yang sangat baik. Efek samping yang muncul biasanya ringan dan cenderung hilang sendiri, sementara laporan kejadian serius atau fatal sangat jarang. Meski begitu, data jangka panjang masih terus dikumpulkan, sehingga pemantauan yang rapi tetap penting.

Sebelum memulai terapi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis untuk menilai kebutuhan dan kecocokan terapi, termasuk obat yang sedang dikonsumsi. Pastikan tindakan dilakukan di klinik bersertifikasi GMP dengan prosedur monitoring yang jelas (observasi pasca pemberian, jadwal follow-up, dan pelaporan KTD). Lakukan juga evaluasi menyeluruh kondisi pribadi mulai dari riwayat alergi hingga penyakit penyerta, agar rencana terapi disusun secara individual dan aman.

Dengan langkah-langkah tersebut, pasien dapat memperoleh manfaat terapi secretome secara optimal, aman, konsisten, dan sesuai tujuan klinis.

Dengan pemantauan ketat dan prosedur yang terstandar, Regenic membantu pasien menjalani terapi secretome dengan aman, nyaman, dan minim risiko.

Referensi:

Baghalishahi, M., Yousefi, M., Nematollahi-Mahani, S. N., Ziasistani, M., Pourjafari, F., & Saheli, M. (2025). Nebulization of Mesenchymal Stem Cells Secretome Attenuates Acute Respiratory Distress Syndrome Caused by SARS-CoV-2 Corona Virus: An Open-Label, Controlled Trial. Advanced Biomedical Research, 14(1). https://doi.org/10.4103/abr.abr_477_23

Black, C. J., Burr, N. E., Quigley, E. M. M., Moayyedi, P., Houghton, L. A., & Ford, A. C. (2018). Efficacy of Secretagogues in Patients With Irritable Bowel Syndrome With Constipation: Systematic Review and Network Meta-analysis. Gastroenterology, 155(6), 1753–1763. https://doi.org/10.1053/j.gastro.2018.08.021

Casado-Santos, A., González-Cubero, E., García-Rodríguez, M. B., Carrera-Serna, Á., González-Fernández, M. L., & Villar-Suárez, V. (2025). The therapeutic potential of mesenchymal stromal cell secretome in treating spontaneous chronic corneal epithelial defects in dogs. Research in Veterinary Science, 185, 105559. https://doi.org/10.1016/j.rvsc.2025.105559

Duke, S. P., Kleoudis, C., Polinkovsky, M., Bennett, D., Hill, D., & Lewis, E. (2017). Quantitative Methods for Safety Monitoring of Rare Serious Adverse Events. Pharmaceutical Medicine, 31(2), 113–118. https://doi.org/10.1007/s40290-016-0176-0

Elgueta, E., Prieto, C. P., Hartmann, D., Carrillo, D., Edwards, N., Martínez, C., Pérez, D., Casas, B., Vergara, L., Valenzuela, F., Catalán, V., Lattus, J., Oyarzun-Ampuero, F., & Palma, V. (2025). Novel sponge formulation of mesenchymal stem cell secretome and hyaluronic acid: a safe and effective topical therapy for Psoriasis vulgaris. Stem Cell Research & Therapy, 16(1), 348. https://doi.org/10.1186/s13287-025-04415-1

Fathi-Kazerooni, M., Fattah-Ghazi, S., Darzi, M., Makarem, J., Nasiri, R., Salahshour, F., Dehghan-Manshadi, S. A., & Kazemnejad, S. (2022). Safety and efficacy study of allogeneic human menstrual blood stromal cells secretome to treat severe COVID-19 patients: clinical trial phase I & II. Stem Cell Research & Therapy, 13(1), 96. https://doi.org/10.1186/s13287-022-02771-w

Harrell, C., Fellabaum, C., Jovicic, N., Djonov, V., Arsenijevic, N., & Volarevic, V. (2019). Molecular Mechanisms Responsible for Therapeutic Potential of Mesenchymal Stem Cell-Derived Secretome. Cells, 8(5), 467. https://doi.org/10.3390/cells8050467



Legiawati, L., Sitohang, I. B. S., Yusharyahya, S. N., Sirait, S. P., Novianto, E., Liem, I. K., Kurniawati, T., Putri, I. S., Rahmadika, F. D., Hakiki, N. P., & Lauren, B. C. (2025). Hair regeneration in androgenetic alopecia using secretome of adipose-derived stem cells (ADSC) and minoxidil: a comparative study of three groups. Archives of Dermatological Research, 317(1), 486. https://doi.org/10.1007/s00403-025-04006-3

Rekomendasi untuk kamu

article

10 Penyakit yang Potensial Diobati dengan Terapi Stem Cell

Umum26 Aug 2026

Terapi stem cell (sel punca) telah menjadi terobosan besar dalam dunia medis berkat kemampuannya untuk meregenerasi dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak.

article

Pendekatan Regeneratif Stem Cell dan Secretome pada Erisipelas

Kulit14 Aug 2026

Erysipelas adalah infeksi kulit yang muncul secara tiba-tiba dan umumnya disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes. Gejalanya meliputi kulit yang tampak merah cerah, terasa hangat saat disentuh, membengkak, serta nyeri, dengan batas khas menyerupai nyala api. Selain gejala pada kulit, penderita juga bisa mengalami demam tinggi, menggigil, dan tubuh terasa lemah.

article

Pendekatan Regeneratif Stem Cell dalam Penanganan Miom Uterus

Umum08 Dec 2025

Miom uterus, atau dikenal juga sebagai leiomyoma atau fibroid, adalah tumor jinak yang tumbuh di jaringan otot rahim (miometrium). Meski tidak bersifat kanker, miom dapat menyebabkan berbagai gangguan, seperti perdarahan menstruasi yang berlebihan, nyeri panggul, sering buang air kecil, hingga gangguan kesuburan.