Secretome dan Penyembuhan Luka Diabetes: Beberapa Uji Klinis

Luka diabetes merupakan salah satu komplikasi kronis pada pasien diabetes melitus yang paling sulit diatasi. Kondisi ini terjadi akibat tingginya kadar gula darah yang berkepanjangan, sehingga merusak pembuluh darah dan saraf pada area tubuh tertentu, terutama pada kaki.

Kadar gula darah yang tinggi bisa menyebabkan kerusakan pada saraf dan pembuluh darah yang kemudian menyebabkan luka diabetes. Penderita diabetes lebih mudah mengalami infeksi atau mudah terluka, sehingga perubahan pada kulit misalnya kemerahan, bengkak, lecet, hingga kapalan dapat menyebabkan luka diabetes.

Tantangan utama dalam penyembuhan luka diabetes adalah rendahnya perfusi darah pada area luka dan gangguan proses regenerasi jaringan. Luka diabetes yang sulit sembuh seringkali berkembang menjadi ulkus diabetikum, yang pada kondisi parah dapat menyebabkan infeksi dan amputasi. Berbagai pengobatan konvensional, seperti pemberian antibiotik, debridemen luka, dan penggunaan pembalut khusus, seringkali tidak cukup efektif dalam menangani luka diabetes.

Saat ini, penggunaan secretome sedang dikembangkan untuk terapi luka diabetes. Molekul-molekul pada secretome memiliki potensi dalam proses penyembuhan luka dengan cara mengurangi peradangan, merangsang pembentukan jaringan baru, dan memperbaiki lingkungan mikro pada luka. Oleh karena itu, terapi secretome dianggap sebagai solusi potensial dalam mengatasi tantangan pada penyembuhan luka diabetes.

Kebutuhan Terapi Baru: Mengapa Secretome Jadi Kandidat Potensial?

Secretome menjadi kandidat potensial untuk penyembuhan luka diabetes karena mengandung berbagai molekul bioaktif penting, seperti faktor pertumbuhan, sitokin anti-inflamasi, eksosom, dan mikropartikel. Komponen-komponen ini berperan dalam merangsang regenerasi jaringan, memperbaiki aliran darah, dan mengurangi peradangan kronis yang sering menghambat penyembuhan pada penderita diabetes.

Selain itu, secretome juga mengandung peptida antimikroba yang berpotensi dalam mencegah infeksi pada area luka, sehingga menjaga kondisi luka tetap steril. Salah satu keunggulan secretome adalah kemampuannya meningkatkan vaskularisasi melalui stimulasi faktor pro-angiogenik seperti VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor). Hal ini mendukung perbaikan sirkulasi darah di sekitar luka, mempercepat suplai oksigen dan nutrisi yang penting bagi proses penyembuhan luka diabetes.

Baca Artikel Lainnya: Terapi Secretome untuk Luka Bakar, Solusi Regeneratif

Ringkasan Beberapa Uji Klinis Penting terkait Secretome untuk Luka Diabetes

  • Uji klinis pada European Society of Medicine oleh Arezina dan Li mengevaluasi efektivitas terapi jaringan plasenta dalam pengobatan ulkus kaki diabetik (DFU). Penelitian ini menganalisis berbagai studi yang menggunakan jaringan plasenta, seperti membran amnion, yang diterapkan secara topikal, disuntikkan, atau diimplantasikan pada luka DFU.
    Hasil uji klinis menunjukkan bahwa terapi ini mempercepat penyembuhan luka dan regenerasi jaringan, dengan pasien mengalami penutupan luka yang lebih cepat, waktu penyembuhan yang lebih singkat, dan hasil klinis yang lebih baik dibandingkan metode konvensional. Efektivitas ini dikaitkan dengan kandungan sel punca mesenkimal dan faktor pertumbuhan dalam jaringan plasenta yang mendukung perbaikan jaringan.
  • Uji klinis oleh tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) telah mengembangkan terapi alternatif untuk penyembuhan luka diabetes dengan menggunakan secretome yang disekresikan oleh Dental Pulp Stem Cells (DPSCs) dari kuda. Dalam penelitian ini, secretome dari DPSCs kuda diformulasikan dalam bentuk gel topikal untuk memudahkan aplikasi pada luka. Uji coba dilakukan pada hewan model tikus yang menderita luka diabetes.
    Hasil penelitian menunjukkan bahwa gel yang mengandung 30% secretome dari PSCs kuda memiliki potensi terbaik dalam mempercepat proses penyembuhan luka dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Perlu dicatat bahwa sebagian besar penelitian tersebut masih berada pada tahap uji coba pada hewan. Informasi mengenai uji klinis fase I, II, atau III pada manusia untuk terapi secretome dalam penyembuhan luka diabetes masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.

Disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis profesional untuk mendapatkan informasi yang tepat terkait pengobatan secretome untuk pengobatan luka diabetes. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa secretome berpotensi dapat membantu dalam proses penyembuhan luka diabetes.

Baca Artikel Lainnya: Stem Cell untuk Penyembuhan Luka Dekubitus pada Lansia

Metode Pemberian Secretome yang Diuji Secara Klinis

Dalam uji klinis, secretome dapat diberikan melalui berbagai cara, tergantung pada jenis secretome yang digunakan dan karakteristik luka:

  • Topikal (dioleskan langsung pada luka): Metode ini melibatkan pengaplikasian cairan atau gel yang mengandung secretome langsung ke permukaan luka.
  • Injeksi Lokal: Secretome dapat disuntikkan langsung ke jaringan di sekitar luka yang membutuhkan pengobatan.
  • Perban atau Matriks yang Diimpregnasi Secretome: Secretome dapat dimasukkan ke dalam perban khusus atau matriks (struktur seperti jaring) yang kemudian ditempelkan pada luka.

Pilihan metode pemberian akan bergantung pada pertimbangan seperti kedalaman dan ukuran luka, jenis secretome yang digunakan, serta tujuan terapi.

Studi-studi praklinis dan uji klinis awal telah menunjukkan potensi secretome dalam mempercepat penyembuhan luka diabetes melalui berbagai mekanisme, termasuk merangsang pembentukan pembuluh darah baru, meningkatkan pertumbuhan sel kulit, mengurangi peradangan, dan mencegah kematian sel.

Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanan dari terapi sel (stem cell dan secretome) dalam berbagai kondisi klinis. Konsultasi dengan tenaga medis profesional sangat disarankan agar terapi ini dapat diberikan secara tepat, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan medis masing-masing pasien. Apabila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut seputar terapi sel (stem cell dan secretome), Anda dapat menghubungi layanan kesehatan mitra Regenic.


Referensi:

  • Universitas Gadjah Mada (2024). Mahasiswa UGM Kembangkan Secretome Kuda sebagai Terapi Alternatif Luka Diabetes. Diakses dari https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-kembangkan-secretome-kuda-sebagai-terapi-alternatif-luka-diabetes
  • Arezina, D. J., & Li, D. (2025). The exploration of the use of placenta in diabetic ulcer disease: A systematic review. Medical Research Archives, 12(12). Diakses dari https://doi.org/10.18103/mra.v12i12.5978
  • Dimantika, A., Sugiyarto, S., & Setyorini, Y. (2020). Perawatan Luka Diabetes Mellitus Menggunakan Teknik Modern Dressing. Interest : Jurnal Ilmu Kesehatan, 9(2), 160–172. Diakses dari https://jurnalinterest.com/index.php/int/article/view/210
  • Brantley, J. N., & Verla, T. D. (2015). Use of placental membranes for the treatment of chronic diabetic foot ulcers. Advances in Wound Care, 4(9), 545–559. Diakses dari https://doi.org/10.1089/wound.2015.0634
  • Silva, S. Y., Rueda, L. C., Márquez, G. A., López, M., Smith, D. J., Calderón, C. A., Castillo, J. C., Matute, J., Rueda-Clausen, C. F., Orduz, A., Silva, F. A., Kampeerapappun, P., & Bhide, M. (2007). Double blind, randomized, placebo controlled clinical trial for the treatment of diabetic foot ulcers, using a nitric oxide releasing patch: PATHON. Trials, 8, Article 26. Diakses dari https://doi.org/10.1186/1745-6215-8-26

 

Rekomendasi untuk kamu

news

Terapi Stem Cell: Harapan Baru Bagi Penderita Infeksi HIV

Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) tetap menjadi tantangan besar dalam dunia kedokteran secara global. Tercatat pada data kesehatan tahun 2022, ada sekitar 38,4 juta orang yang hidup dengan infeksi HIV.

news

Regenic Wakili Indonesia Di Ajang Stem Cell Tingkat Dunia

Pada tanggal 13-15 Agustus 2025 di Manly Pacific Hotel, Sydney, Australia, Regenic by Kalbe diwakili Dr. Harry Murti, selaku Head of Manufacturing Regenic, Kalbe Farma Indonesia, turut andil dalam ajang ilmiah internasional mengenai pengembangan terapi regeneratif berbasis sel punca dan teknologi RNA sintetis, ISCT ANZ 2025 Regional Meeting. Dalam kesempatan ini, Dr. Harry akan mempresentasikan topik “GMP-compliant production of footprint-free hiPSCs via synthetic self-replicating RNA from patient and healthy donor cells; A scalable platform for regenerative therapies.”