Terapi Stem Cell: Harapan Baru Bagi Penderita Infeksi HIV

Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) tetap menjadi tantangan besar dalam dunia kedokteran secara global. Tercatat pada data kesehatan tahun 2022, ada sekitar 38,4 juta orang yang hidup dengan infeksi HIV.

Meskipun terapi antiretroviral (ARV) telah berhasil menekan virus dan meningkatkan kualitas hidup penderita, HIV tetap belum dapat disembuhkan sepenuhnya. ARV memerlukan penggunaan seumur hidup dengan dosis harian untuk menekan reservoir virus jangka panjang dan mencegah rebound virus. Karena itu, penelitian terus dilakukan untuk mencari solusi yang lebih permanen.

Di tengah upaya ini, terapi sel punca (stem cell) muncul sebagai harapan baru. Meski terapi antiretroviral (ARV) efektif mengendalikan replikasi virus, obat ini tidak bisa menyembuhkan HIV sepenuhnya.

Berapa besar peluangnya Stem cell untuk penderita HIV?

Peluang keberhasilan terapi stem cell untuk HIV memang masih dalam tahap eksplorasi dan belum menjadi terapi standar. Hingga saat ini, hanya ada beberapa kasus terkenal seperti "The Berlin Patient" dan "The London Patient" yang berhasil sembuh dari HIV setelah menjalani transplantasi stem cell dari donor dengan mutasi CCR5-delta32. Namun, keberhasilan ini masih dianggap langka dan tidak bisa langsung diaplikasikan secara massal, karena prosedurnya sangat kompleks, mahal, dan berisiko tinggi.

Meski demikian, kemajuan teknologi biomedis memberi harapan bahwa di masa depan, pendekatan ini bisa menjadi lebih aman, terjangkau, dan efektif. Penelitian-penelitian terbaru juga mulai mengarah pada pengembangan terapi stem cell yang tidak membutuhkan donor langka, melainkan berasal dari sel pasien sendiri yang dimodifikasi secara genetik. Jika berhasil, ini bisa membuka jalan bagi terapi yang lebih personal dan luas jangkauannya.

Baca Artikel Lainnya: Bisakah Stem Cell Membantu Anak dengan Epilepsi?

Bagaimana Terapi Stem Cell Bekerja dalam Pengobatan Infeksi HIV?

Terapi stem cell untuk HIV bekerja dengan cara utama:

  1. Mengganti Sistem Imun yang Rusak
    Stem cell dari donor yang kebal HIV (karena mutasi CCR5-delta 32) ditransplantasikan ke pasien. Sel-sel ini kemudian membentuk sistem imun baru yang resisten terhadap HIV.
  2. Membangun Sistem Imun yang Resisten dari Sel Pasien Sendiri
    Dalam pendekatan lain yang masih dalam tahap penelitian, ilmuwan mencoba mengambil stem cell dari pasien HIV, kemudian memodifikasi gen CCR5 di laboratorium menggunakan teknologi seperti CRISPR-Cas9. Setelah itu, stem cell yang sudah dimodifikasi ditanamkan kembali ke tubuh pasien dengan harapan mereka akan membentuk sistem imun yang kebal terhadap HIV.
  3. Menghilangkan Reservoir Virus
    Selain membentuk sistem imun yang resisten, terapi stem cell juga berpotensi membantu menghilangkan “reservoir” atau tempat persembunyian HIV di dalam tubuh. Dengan mengganti sebagian besar sistem imun yang lama, maka populasi sel yang mungkin menyimpan virus bisa ikut berkurang, memberikan peluang untuk menghilangkan virus dari tubuh secara keseluruhan.

Beberapa Kisah Sukses Terapi Stem Cell Pada Penderita HIV

Beberapa pasien menjadi bukti nyata keberhasilan terapi ini:

  • Pasien Berlin (Timothy Brown): Sembuh dari HIV setelah transplantasi stem cell untuk leukemia pada tahun 2008. Donor memiliki mutasi CCR5 delta 32. Brown bebas HIV hingga akhir hayatnya.
  • Pasien London (Adam Castillejo): Sembuh setelah transplantasi stem cell dengan mutasi CCR5 delta 32 pada tahun 2019. Tidak lagi minum ARV selama 30 bulan, dan tes menunjukkan 99% sel imunnya berasal dari donor.
  • Pasien New York: Perempuan pertama yang sembuh pada tahun 2022. Transplantasi stem cell yang berasal dari darah tali pusat dengan mutasi CCR5 delta 32. Setelah 14 bulan, virus tidak terdeteksi.

Terapi stem cell memberi secercah harapan bagi penderita HIV, terutama mereka yang juga menderita kanker darah. Bagi pasien HIV, penting untuk tetap patuh pada pengobatan dan berkonsultasi dengan dokter.

Namun, jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai pengobatan stem cell atau secretome, pastikan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis yang kompeten di bidang ini terlebih dahulu. Anda dapat kunjungi layanan kesehatan di Regenic.

Sumber Referensi:

  • Yayasan KNCV Indonesia. (2023, 31 Juli). Pencegahan, Pemeriksaan, dan Pengobatan HIV untuk Kesehatan Optimal. Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI. https://ayosehat.kemkes.go.id/pencegahan-pemeriksaan-dan-pengobatan-hiv-untuk-kesehatan-optimal
  • Kompas.id. (2020, 12 Maret). Pengidap HIV berhasil disembuhkan. Kompas.id. https://www.kompas.id/baca/ilmu-pengetahuan-teknologi/2020/03/12/pengidap-hiv-berhasil-disembuhkan
  • DW Indonesia. (2022, 16 Februari). Pasien ketiga HIV berhasil sembuh berkat terapi sel punca. DW.com. https://www.dw.com/id/pasien-ketiga-hiv-berhasil-sembuh-berkat-terapi-sel-punca/a-60796015
  • Villaescusa, A. (2024, 4 September). Primer caso de curación del VIH con trasplante de célula madre. AS.com. https://as.com/actualidad/ciencia/primer-caso-de-curacion-del-vih-con-trasplante-de-celula-madre-n/
  • Peterhoff, D. New case of HIV cure: joined forces of haploidentical stem cells and HLA-mismatched cord blood. Sig Transduct Target Ther 8, 241 (2023). https://doi.org/10.1038/s41392-023-01514-4

Rekomendasi untuk kamu

news

Regenic Wakili Indonesia Di Ajang Stem Cell Tingkat Dunia

Pada tanggal 13-15 Agustus 2025 di Manly Pacific Hotel, Sydney, Australia, Regenic by Kalbe diwakili Dr. Harry Murti, selaku Head of Manufacturing Regenic, Kalbe Farma Indonesia, turut andil dalam ajang ilmiah internasional mengenai pengembangan terapi regeneratif berbasis sel punca dan teknologi RNA sintetis, ISCT ANZ 2025 Regional Meeting. Dalam kesempatan ini, Dr. Harry akan mempresentasikan topik “GMP-compliant production of footprint-free hiPSCs via synthetic self-replicating RNA from patient and healthy donor cells; A scalable platform for regenerative therapies.”

news

Stem Cell untuk Guillain-Barré Syndrome: Terobosan Baru?

Guillain-Barré Syndrome (GBS) merupakan gangguan langka pada sistem saraf yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang saraf-saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang (sistem saraf perifer). Gejalanya bisa muncul secara tiba-tiba, mulai dari kelemahan otot, kesemutan, hingga kelumpuhan total dalam waktu singkat.